Baca Juga : Anak Buah Jokowi Persilahkan Gatot Nurmantyo Teriak Terus, Jika Itu Baik
Perlawanan pun diberlakukan olehnya. Film G 30 S PKI dibuat dan diputarnya selama 16 tahun. Durasi film itu diputar 4 jam lebih. Tak ada iklan, semua TV pasca 1989 -1998 diwajibkan memutarnya. Anak –aak sekolah diwajibakan menonton, dan membuat kesimpulannya untuk dinilai sang guru sejarah. Diputarnya film ini membuat kekuasaannya kembali tegak. Ultimatum pun diberlakukan dengan beringas ala dikator, bahkan yang melakukan pembangkangan kepadanya di cap komunis. Dipenjara, dipersulit hidupnya. Kalau perlu dihilangkan secara paksa.
Ya, isu komunis pun menjadi dagangan utama Orba. Sampai kekuasaanya tumbang tahun 1998. Film ini tak lagi diputar. Kebangkitanya mulai sedikit kelihatan melalui Gatot Nurmantyo dengan KAMI-nya. Pemaksaan pun dilakukan. Berlagak moral dan bersih.
Situasi Covid - 19 pemerintah lagi menerapkan protokal kesehatan sembari mencari vaksin bagi penyembuhan rakyatnya yang terpapar virus ini.
KAMI cs malah menyebarkan virus Komunis. Vaksinnya jelas menjatuhkan Jokowi,
Gatot dan deklarator KAMI pun berbisik dan berteriak kepada rakyat untuk bangkit melawan komunis yang katanya sudah menyusup ke DPR dan eksekutif.
Saat ini nobar pun mereka gelar. Tempat ibadah pun mereka paksa untuk melakukan nobar. KAMI, HTI, FPI, dan PA 212 tentu dengan Orba yang masih tersisa berada dipemaksaan tersebut. Mereka ini, sepertinya melihat kekuatan reformasi yang menumbangkan orba mulai melemah dan tak ada kekuatan yang berarti. Peluang ini dijadikan kesempatan untuk berteriak dan berteriak Komunis bangkit. Suara itu jelas bunyi bau Orba yang sudah tumbang.
Pengamat hukum tata negaram dan praktisi hukum, serta tokoh yang cinta damai. Tempat ibadah itu tangga langit bukan dijadikan tangga politik. Jika itu dilakukan, bahwa penista agama sesungguhnya adalah mereka. Jadi yang teriak komunis Pasti Pemuja Soeharto. Jadi waspada saja.