Baca Juga : Anies Diujung Tanduk, Ahmad Riza Patria Tepat Jadi Plt Gubernur
Tak membuat Wakil Presiden (Wapres) ke 10 dan 12 kehilangan akalnya untuk menancapkan kuku kekuasaannya di kancah daerah dan nasional. Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2017 menjadi bukti lihainya politisi Partai Golkar sejak 1960-an yang pernah menjadi Ketua Umum Partai Golkar (2004 -2009).
Disela-sela kunjungan kerja Wapres JK ke Venezuela dan Amerika Serikat September 2016. Siang hari waktu Amerika Serikat, 23 September 2016. JK menghubungi melalui sambungan Handphone langsung ke Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Pesannya, pilih Anies Baswedan sebagai calon Gubernur Jakarta dan Wakilnya Sandiaga Uno.
Alasasannya kata suami dari Mufidah Jusuf Kalla ini Anies orang yang dekat dengan Jokowi. Juru bicara (Jubir) pasangan Capres – Cawapres, Jokowi – JK pada 2014, Deputi Kantor Transisi Jokowi – JK, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Namun jabatan Menterinya diberhentikan Presiden Jokowi.
Pilkada Jakarta, 2017 dimenangkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Ternyata restu JK ke Anies di Pilkada ini, sudah dirancang khusus oleh JK sendiri. Yang mana pemilik PT. Hadji Kalla, PT. Bukaka Teknik Utama, PT. Bumi Sarana Utama, PT. Bukaka Singtel International Organisasi, PT. Kalla Inti Karsa, dan PT. Bumi Karsa dan mungkin masih banyak lagi perusahaan yang dimilikinya ini sadar bahwa 2019 dirinya tak mungkin sebagai Wapres lagi, karena terkena aturan bahwa seorang menjadi Wapres hanya dua kali walaupun tak berturut-turut.
Namun tak bisa dipungkiri perlakuan khusus Menteri Perindustrian dan Perdagangan (1999 - 2000) ke Anies sangat berbeda dengan ke Sandi. Terpilihnya Anies sebagai orang nomor satu Jakarta diterima pribadi dri rumah dinas Wapres JK pada 2017. Sandi secara terbuka di hotel bilangan Sudirman Jakarta, 2017. Otomatis saat tidak menjadi Wapres, tidak ada lagi kegiatan usaha secara skala nasional. Namun terobati kecil dalam skala daerah, Jakarta melalui Anies.
Terbukti kegatan formula E di Jakarta, Juni 2020 ( katanya bila tidak ada covid-19 jadi dilaksanakan). Kegiatan ini konon menelan anggaran lebih dari 1 triliun rupiah dan baru digunakan 77 miliar rupiah dengan korbannya penebangan pohon dengan alasan revitalisasi Monas. Sisanya yang 1 triliun rupiah, apakah dikembalikan ke APB Jakarta lagi? Bisa ya dan bisa tidak. Yang tahu cuman Tuhan. Keponakan JK, Erwin Aksa kental dalam proyek ini. Tentu atas restu JK juga.
Sampai pada penerapan PSBB total, Senin 14 September 2020 ini. Sepertinya diketahui JK. Pasti Anies sudah melaporkan tentang penerapan ini kepada JK juga.
Padahal penerapan yang dilakukan ayah dari Mutiara Annisa penuh dengan kontroversial. Mulai gerah dan geramnya para pelaku usaha, sampai kepala-kepala daerah penyangga Jakarta juga mempertanyakan keputusan Anies yang tak dikoordinasikan sama pemerintah pusat. Bahkan Ketua Badan Anggaran (Banggar) Said Abdullah menyatakan Indeks Saham Harga Gabungan (IHSG) anjlok dan kerugiannya mencapai 300 triliun rupiah.
Wakil Presiden ke 10 dan 12 Jusuf Kalla
Terkait dengan JK sebagai pengusaha. Calon Ibukota baru di Kalimantan Timur, Lumbung Nasional, dan proyek besar nasional lainnya yang tidak ada tanda tangan JK didalamnya rupanya menjadi hal yang mengganggu ayah dari Muchlisa Kalla, Solichin Kalla, Muswira Kalla, Chaerani Kalla, dan Imelda Kalla ini kegiatan yang besar hanya berkutat di Jakarta saja.
Bisa jadi Menteri Koordinator Kesejateraan Rakyat (2001 -2004) mungkin tak mau orang lain kebagian rejeki yang melimpah, sedangkan dirinya hanya kebagian yang sedikit. Apakah benar penerapan PSBB total ada restu JK didalamnya? Hanya Anies yang tahu.