Baca Juga : Mahfud MD: Zaman Orde Baru Koruptor Berpidato Anti Korupsi
Berbeda pendapat apalagi sampai mengkritik terhadap rezim itu. Sudah pasti pembungkaman menerpanya. Hak memilih apalagi dipilih tak ada lagi, dan penutupan kantong-kantong logistik ekonomis akan dialami bukan hanya kepada pribadinya tetapi keluargapun kena getahnya.
Seperti yang dialami petisi 50 yang tediri dari para purnawirawan Jenderal TNI dan Polisi, serta kaum intelektual terdidik dan terhormat mengalami kekejaman dari pemimpin utama Orba. Kantong-kantong logistik ekonomis yang didapat dari negara secara UU pasti di tahan penguasa Orba, hanya karena mereka ini mengkritik Soeharto.
Hal itu ternyata berlaku juga bagi aktivis dan kelompok yang selalu berseberangan dengan pemerintahan ayah dari Tommy Soeharto. Berani demonstrasi siap-siap menghadapi terjangan sepatu lars, dan popor senapan, pentungan, gas air mata, peluru karet, bahkan tak segan-segan timah panas siap ditembakan. Hak Azasi Manusi (HAM) walaupun ada namun tak berlaku dan pasti tak menyentuh pelakunya.
Sumber pendapatan negara melalui pajak dan sumber daya alam ada dan masuk ke kas negara tapi digunakan oleh, untuk dan kepada kroni Orba, keluarga cendana mendapat bagian paling besar.
Rakyat hanya menonton dan dipaksa harus membayar pajak. Bahkan (SD, SMP, SMA) Negeri, harus dibayar oleh rakyat. Tak ada yang gratis.
Imbasnya lagi karena pendapatan bukan sepenuhnya untuk rakyat, maka transportasi umum jauh dari kata layak. Kusam dan desa-desakan kerap dijumpai dan dialami rakyat. Seperti penggunaan kereta api jarak dekat dan jarak jauh tidak ada AC, naikpun harus lewat jendela, karena pintu kereta sudah tak bisa dilewati. Menggunakan transportasi umum lebih parah, copet berkeliaran dan melakukan aksinya secara terang-terangan. Kata aman dan nyaman jauh dari harapan.
Sekarang berbeda jauh. Rakyat merasakan hal luar biasa. Naik kereta hanya lewat pintu, AC ada dan sejuk, serta hanya yang punya tiket saja yang boleh naik. Demikian juga dengan transportasi lainnya. Sangat terasa aman dan nyamannya.
Jadi aneh yang mengatakan jaman orba lebih enak. Enaknya hanya bagi para preman berdasi dan tak berdasi, koruptor dan politisi busuk yang kerjaannya menyengsarakan rakyat dengan memungut upeti dari label pajak yang berlegal.
Makanya saat ini para oknum itu akan membangkitkan jaman yang bagi mereka enak itu, Namun bagi 99 persen rakyat jaman itu tidak enak. Mereka akan menggunakan berbagai cara untuk melakukannya. Rakyat dicoba untuk dimanipulasi dengan slogan “sorga” jaman lalu bisa diulang lagi di jaman sekarang.
Segala cara mereka akan gunakan. HTI yang telah dilarang pemerintah sejak 2017, akan mereka gunakan dan aktifkan. Baginya kekuasaan harus mereka rebut kembali. Untuk meredam itu, seluruh anak bangsa harus bersatu dan berani mengatakan tidak. Rayuan mereka tak perlu diikuti apalagi sampai dilaksanakan
Sudah terbukti di era Jokowi, Freeport tunduk, Singapura segan, Malaysia menaruh hormat, Swis mau kembalikan harta negara kita yang yang disimpan para koruptur. Pagelaran Asian Games menjadi viral dan trending topik di berbagai negara di dunia.
Anak-anak milenial atau anak muda berkreasi lewat aplikasi Online (Gojek, Tokopedia, Bukalapak, Lazada dll), pos perbatasan dengan negara tetangga di perbagus bahkan lebih bagus dari negara lain.
Jalan tol bukan hanya ada di Jabodetebak, tapi sudah menghubungkan Jawa, sebagian Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Bahkan jalan di Papua sudah tembus ribuan kilometer. Untuk rakyat yang lahannya tekena pembangunan jalan tol, Jokowi gunakan ganti untung bukan ganti rugi. Penerapan satu harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dilakukan diseluruh Indonesia. Setiap warga negara yang mau demontrasi di persilahkan, tak ada yang ditangkap. Selama demonya tidak anarkis.
Ternyata Slogan kerja, kerja, dan kerja membuahkan hasil secara luar biasa dan benar-benar dirasakan rakyat.