Kamis, 4 Juni 2026

Pidato AHY Sebut ‘Presiden Mendatang’, Jokowi atau Prabowo?

Photo Author
Tim Redaksi, Nawacita Post
- Sabtu, 2 Maret 2019 | 15:38 WIB
Jakarta NAWACITA – Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Komandan Kogasma Pemenangan Pemilu Demokrat, menyampaikan tiga pokok pandangan PD sebagai pesan kepada presiden mendatang. Di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi, impor pangan, hingga persoalan hukum.

Dalam pidatonya yang disampaikan di Djakarta Theater, Jumat (1/3) kemarin, taknpa menyebut nama capres yang diusung Demokrat, AHY mengungkapkan, partai berharap agar presiden terpilih nanti meneruskan program prorakyat era Susilo Bambang Yudhoyono.

AHY menuturkan, pemerintah diminta memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat kurang mampu. Khusus untuk membantu masyarakat miskin dan kurang mampu, presiden mendatang disarankan menjalankan kebijakan dan program khusus untuk melindungi dan meningkatkan kelayakan hidup kaum miskin.

“Dengan segala kerendahan hati, Partai Demokrat menyarankan program-program prorakyat era SBY dapat dilanjutkan dan ditingkatkan, apa pun namanya," kata AHY.

"Presiden hasil Pemilu tahun 2019, presiden yang diharapkan bisa terus melakukan perubahan dan kemajuan yang nyata bagi kehidupan rakyat. Partai Demokrat berpendapat bahwa hakikat pembangunan adalah kesinambungan dan perubahan. Continuity and change. Yang sudah baik lanjutkan, yang belum baik perbaiki," sambung AHY.

Menanggapi cuplikan pidato putera sulung Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut, pada kata 'presiden mendatang', Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin menafsirkannya sebagai keinginan AHY agar program SBY dilanjutkan Jokowi.

Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding mengatakan pidato yang disampaikan AHY menunjukkan pesan bahwa Jokowi telah melanjutkan program yang ada. Hal ini, menurutnya, tidak mengubah kebijakan secara drastis.

Menurut Karding, Jokowi telah banyak memodifikasi kebijakan-kebijakan terdahulu, di antaranya Kartu Indonesia Pintar dan bantuan pangan nontunai. Karding mengatakan hal ini menunjukkan Jokowi tidak hanya melanjutkan program terdahulu, tapi juga menyempurnakan program yang ada.

"Pak Jokowi telah menginovasi melakukan diversifikasi terhadap banyak kebijakan-kebijakan terdahulu dan kita lihat dari misalnya KIP, KIS, dan bantuan pangan nontunai itu bagian dari upaya Pak Jokowi semakin memperbaiki sistemnya. Sekaligus mengefektifkan seluruh bantuan-bantuan dan istilah jejaring pengaman sosialnya dan menurut saya ini sesuatu yang baik, sesuatu yang menarik," kata Karding.

Sementara di pihak seberang, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno meyakini, Demokrat totalitas mendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02.

"Oh full, solid, mantap, yakin. Pak SBY, Bu Ani yang sakit, AHY, dan seluruh keluarga besar Demokrat, kader, dan semua simpatisannya mendukung total buat Pak Prabowo-Sandi," kata Juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Ahmad Riza Patria.

Riza menilai, dalam pidato politiknya, AHY menjelaskan perbedaan periode kepemimpinan Ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, pidato tersebut merupakan pesan untuk Prabowo.

"Banyak sekali yang disampaikan Pak AHY, detail itu soal program-program, subsidi yang dicabut. Itu artinya yang dimaksud Pak AHY itu adalah ke depan kalau Pak Prabowo jadi presiden jangan seperti Pak Jokowi, gitu loh," ujar Riza terpisah.

"Jangan tebang pilih penegakan hukum, lapangan pekerjaan sulit, ekonomi tidak tumbuh, ekonomi tidak seperti yang diharapkan. Sudah jelas di situ bahwa Presiden RI yang dimaksud Pak AHY, Prabowo Subianto, bukan Pak Jokowi," imbuh Riza.

Editor: Tim Redaksi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB