“Hari ini kerja-kerja modern dan pendeteksi bencana itu menggunakan teknologi informasi bisa CCTV, e-warningnya bisa seismograf, bisa juga menggunakan artificial intelligence dipantau titik-titik tertentu, menganalisis aktivitas warga dan alam. Itu kan menjadi informasi yang dianalisis untuk menyampaikan potensi ancamannya ke stakeholder. Ya, masyarakat, aparat, pelaku-pelaku industri, ini mereka semua cukup pengetahuan tentang itu,” pungkasnya.
Pada kesempatan itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten Nana Suryana mengatakan, program BPBD disesuaikan dengan nomenklatur dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Yakni program urusan penunjang pemerintah dan program penanggulangan bencana.
“Program penanggulangan bencana itu ada beberapa, diantaranya pada pra bencana atau kesiapsiagaan. Kemudian kedaruratan dan evakuasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi,” jelasnya.
Nana mengaku bersyukur, bahwa selama ini kolaborasi dan sinergi penanggulangan bencana bersama stakeholder di Provinsi Banten sudah bagus.
“Alhamdulillah sudah semakin baik. Ini bisa kita buktikan pada saat terjadi bencana. Semua stakeholder turun bersama-sama dalam satu komando. TNI, Polri, relawan, dunia usaha, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Banten, dan kabupaten/ kota bersama-sama. Itu juga kita lakukan pada saat pra-bencana melalui aktivitas-aktivitas kebersamaan melalui gladi. Kemudian melalui apel bersama, apel gabungan, gelar pasukan, dan pelatihan bersama,” pungkasnya.(**)