NAWACITAPOST.COM - Pulau Nias, sebuah pulau yang terletak di Sumatera Utara (Sumut), pernah menjadi saksi bisu dari peristiwa unik yang terjadi pada masa Perang Dunia II. Pada 29 Maret 1942, atau 82 tahun yang lalu, pulau ini menjadi pusat perhatian dunia ketika sekelompok tawanan Jerman yang selamat dari kapal Van Imhoff yang tenggelam berhasil mengambil alih kekuasaan Belanda di Gunungsitoli, ibu kota pulau ini.
Para tawanan ini, yang jumlahnya mencapai 66 orang, berhasil memproklamasikan Republik Nias Merdeka. Ernst Leo Fischer mengklaim dirinya Perdana Menteri dan Albert Vehring sebagai Menteri Luar Negeri.
Peristiwa ini bermula ketika pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk membawa 477 tawanan Jerman ke tangan kolonial Inggris di India. Mereka ditarik menggunakan kapal KPM Van Imhoff dengan Kapten kapal bernama Bongvani.
Namun, perjalanan mereka berakhir tragis ketika kapal mereka diserang oleh pesawat tempur Jepang. Bom-bom yang dilepaskan oleh pesawat Jepang mengenai kapal Van Imhoff, dan para tawanan Jerman pun kocar-kacir dalam upaya menyelamatkan diri.
Baca Juga: Gunung Lolomatua: Puncak Tertinggi di Pulau Nias, Ada Bukit Doa Rajawali
Beberapa tawanan Jerman berhasil menemukan sebuah sekoci yang tidak sempat dibawa oleh Belanda. Mereka naik ke sekoci tersebut dan menyelamatkan diri.
Namun, sekitar 200 orang lainnya terpaksa terjun ke laut, berharap ada bantuan yang datang. Mereka terombang-ambing di tengah laut, menahan lapar dan terik matahari. Beberapa di antara mereka bahkan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena sudah merasa pasrah.
Hari keempat setelah kejadian tersebut, tepatnya pada 23 Januari 1942, sekoci yang membawa tawanan Jerman ini sampai di Pulau Nias. Keesokan paginya, para tawanan yang sudah lemah dan lapar dibantu oleh beberapa orang Nias dan seorang pastur Belanda, Ildefons van Straalen, untuk memberikan makanan dan minuman kepada mereka.
Keberadaan tawanan Jerman ini di Pulau Nias tidak luput dari perhatian Belanda. Mereka kemudian dibawa ke Ibukota Gunung Sitoli dan dipenjara dengan pengawasan ketat dari Belanda dan polisi Indonesia dari daerah Sumut.
Namun, nasib para tawanan Jerman ini berubah ketika Jepang mendarat di Sumatera dan Jawa. Dengan bantuan Jepang dan kerja sama dengan polisi Indonesia, para tawanan Jerman berhasil mendekati polisi Indonesia dan akhirnya mendapatkan kebebasan kembali. Atas kerjasama ini, Jerman bersama dengan Nias memproklamasikan 'Kemerdekaan Republik Nias', yang dipimpin oleh Herr Fischer sebagai Perdana Menteri dan Albert Vehring sebagai Menteri Luar Negeri.
Meskipun hanya bertahan beberapa bulan, Republik Nias Merdeka meninggalkan jejak dalam sejarah Pulau Nias. Keberadaannya memberikan harapan dan kekuatan bagi masyarakat Nias, meskipun akhirnya harus kembali tunduk pada kekuasaan kolonial.