nasional

Imbas Kabut Asap Karhutla: Langit Palangka Raya Menguning Pekat dan Warga Kesusahan Bernapas

Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:55 WIB
Langit Palangka Raya, Kalteng berwarna kuning hingga oranye akibat kabut asap karhutla. (Dok. Istimewa)

NAWACITAPOST.COM — Fenomena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Wilayah Kalimantan Tengah kian mencapai titik krusial.
 
Selama dua hari terakhir, sejak Selasa (13/10/2026) hingga Rabu (14/10/2026), Kota Palangka Raya dikepung ketebalan asap pekat yang merubah warna langit menjadi kuning kemerahan dan melumpuhkan jarak pandang warga.

Dampak buruk fenomena ini memicu gelombang keresahan massa hingga membanjiri berbagai saluran media sosial.
 
Berbagai dokumentasi berupa foto dan rekaman video memperlihatkan visual mencekam dari ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut, di mana paparan asap menutupi ruang publik secara masif sejak pagi hingga sore hari.
 
Baca Juga: Sempat Pro-Kontra, Warga Teluk Bakau Akhirnya Sepakati Sagu Hati Rp30 Juta

Penurunan kualitas udara yang dramatis ini dirasakan langsung oleh masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
 
Asap pekat tidak hanya membatasi ruang gerak di jalan raya, tetapi juga mulai merenggut kenyamanan dan kesehatan respiratorik warga setempat.

“Kemarin sekitar pukul 15.52 WIB, saat akan pulang kantor di daerah Tjilik Riwut, kondisinya bener-bener buram. Bahkan, buat lihat wajah orang pun susah dan di jalan semuanya nyalain lampu jarak jauh karena warnanya sampai oranye itu,” ujar Alifia kepada NKRI24JAM.com, salah satu mitra jaringan Promedia Group pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Alifia mengungkapkan bahwa ancaman kabut asap kali ini jauh melampaui batas toleransi harian.
 
Dampak fisik dari penurunan kadar oksigen bersih mulai memicu gangguan kesehatan fatal meski bagi warga tanpa riwayat penyakit bawaan.
 
Baca Juga: Merespons Darurat BBM, Gubernur Koster Menggembleng Pertamina Demi Pertahankan Citra Wisata Bali

“Padahal enggak punya asma, tapi kalau udaranya seperti ini kadang juga kerasa sesak karena kurang oksigen, engap. Baju sehari-hari juga jadi bau asap,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa eskalasi keparahan kabut asap memuncak tajam pada pertengahan pekan ini. Eskalasi tersebut dinilai sebagai salah satu siklus terburuk sepanjang periode karhutla tahun ini.

“Kabut asap ada terus sampai tiba-tiba kemarin paling parah. Bener-bener pulang kantor enggak bisa lihat jalan,” jelasnya.

Anomali cuaca dan pekatnya paparan partikulat asap berlanjut hingga Rabu (14/10/2026) pagi.
 
Atmosfer kota digambarkan berubah gelap bak subuh meski waktu telah menunjukkan pertengahan pagi, memicu keprihatinan luas publik di ruang siber.
 
Baca Juga: Stok BBM Bali Mulai Normal? Antrean Masih Mengular di Denpasar dan Badung

“14 Oktober 2026, Palangka Raya Kalteng, jam 07.00 pagi loh ya sudah sekuning ini. Semakin hari semakin memburuk keadaannya,” tulis akun Threads @nab*******i.

Keluhan senada disuarakan oleh pengguna media sosial lainnya yang mendesak adanya langkah konkret penanggulangan bencana dari pihak berwenang sebelum krisis ekologis ini makin menelan banyak korban.

“Palangka Raya 14 Oktober 2026, kondisi udara jam 9.30 WIB pagi seperti subuh. Begini yang terjadi di Kalimantan, semoga segera ada tindakan nyata dari pemerintah,” tulis akun @kus**********i.

Berdasarkan laporan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), operasi penanganan karhutla saat ini tengah menargetkan total luas kebakaran mencapai 639,23 hektare yang tersebar di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.
 
Dari seluruh kawasan terintegrasi tersebut, Kalimantan Tengah mencatatkan luasan kebakaran terbesar dan paling kritis.
 
Baca Juga: Setengah Abad HIPPI: Gemerlap Djakarta Theater Saksi Ketangguhan Perempuan dan Rekor DKI

Eskalasi luasan karhutla di Kalimantan Tengah menyumbang porsi mayoritas akibat terbakarnya kawasan konservasi penting di wilayah tersebut.

“Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah. Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan yang per 12 Oktober 2026, ada 513,89 hektare yang terbakar di sana,” ungkap Kepala BNPB, Suharyanto, dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Hingga saat ini, upaya pemadaman terus dipacu melalui jalur darat oleh tim gabungan. Namun, imbas dari kabut asap tebal yang menghasilkan kerapatan jarak pandang sangat rendah kini menjadi penghambat utama (barrier) bagi armada udara.
 
BNPB mengakui bahwa pekatnya asap membatasi jarak pandang aman penerbangan, sehingga mengoperasikan helikopter water bombing maupun melakukan eksekusi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi sangat berisiko dan terhambat di lapangan.

Tags

Terkini