NAWACITAPOST.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana meluruskan simpang siur informasi terkait penyebab kematian puluhan penyintas pascagempa di Nusa Tenggara Timur. Lembaga tersebut memverifikasi ulang data lapangan dan mengonfirmasi bahwa para korban jiwa di pengungsian bukan disebabkan oleh dampak langsung dari bencana alam tersebut.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan perubahan data ini didapatkan usai pencocokan data bersama instansi kesehatan terkait di seluruh wilayah terdampak.
“Hasil verifikasi dan validasi, kami meluruskan bahwa 94 warga tersebut tidak meninggal akibat trauma fisik langsung atau reruntuhan bangunan akibat gempa bumi,” ujar Berton dalam keterangannya kepada awak media melalui video yang diunggah di Instagram @bnpb_indonesia, dikutip pada Jumat, 18 September 2026.
Lebih lanjut, Berton menjelaskan kondisi medis mendasar yang melatarbelakangi gugurnya puluhan pengungsi tersebut selama berada di lokasi penampungan sementara.
“Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis yang sudah diderita, seperti stroke dan diabetes melitus,” lanjutnya.
Melalui klarifikasi ini, BNPB sekaligus meluruskan laporan awal yang dikeluarkan pada Selasa, 15 September 2026. Kala itu, Berton membeberkan bahwa ada 94 warga yang menghembuskan napas terakhir di tenda pengungsian.
“Saat ini kami menyampaikan bahwa korban yang meninggal secara langsung akibat gempa bumi itu 48 orang, tetapi secara tidak langsung yang ada di pengungsian ada 94 orang,” kata Berton dalam keterangan yang dibagikan pada 15 September 2026 lalu.
Di tengah kabar duka tersebut, BNPB menjamin bahwa seluruh posko penanganan tetap bekerja ekstra melayani kebutuhan para penyintas gempa NTT yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu.
“Kami memastikan pelayanan dasar dan kesehatan tetap dilaksanakan optimal. Sejak hari pertama, BNPB mengaktifkan pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere, bantuan medis, dan obat-obatan untuk para pengungsi,” imbuhnya.
Berdasarkan pemutakhiran data BNPB, total korban jiwa secara keseluruhan mencapai 142 orang. Sementara itu, tercatat ada 1.603 warga mengalami luka-luka dan 46.461 jiwa lainnya masih bertahan melintasi hari-hari sulit di posko pengungsian.