Baca Juga : Korban Janji Palsu Program Pendidikan Gratis di Nias Selatan Tidak Jelas
Untuk menuju ke arah tersebut, peran pendidikan tinggi ilmu keguruan sangat diperlukan. Hal tersebutlah yang dilakukan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Nias Selatan dan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia (FKIP UKI) mengadakan Memorandum of Agreement (MOA). Proses penandatangan ini, dilakukan berbarengan dengan seminar nasional melalui Webinar dengan tema "Problematika dan Solusi Pembelajaran Daring dalam Menghadapi Era New Normal" pada Sabtu (11/7/2020) di dua tempat berbeda yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom dan Live Streaming Youtube di FKIP UKI HEBAT dan STKIP Nias Selatan.
Dekan FKIP UKI Dr. Sunarto, M.Hum
Penandatanganan MoU dilakukan Dekan FKIP UKI, Dr. Sunarto, M.Hum dan Ketua STKIP Nias Selatan, Dr, Martriman S, Sarumaha, M,Pd. Dijelaskan dalam kerjasama tersebut, “bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, baik dosen maupun mahasiswa/i.” Selanjutnya, “kedua belah pihak sepakat bahwa kegiatan kuliah umum, seminar/webinar, penelitian bersama, pengelolaan online journal system, pengabdian kepada masyarakat dan aktivitas ekstra-kurikuler serta kewirausahaan dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditentukan,” tutur penjelasan dari kerjasama tersebut.
Terkait, seminar melalui webinar yang dimoderatori Ronny Gunawan, M.A., M.Pd. diawali dengan sambutan yang disampaikan Koordinator STKIP,STIE,STIH Nias selatan Dr. Zagota, MA menyambut baik kerjasama seperti ini, sedangkan Wakil rekto UKI bidang Akademik Dr Wilson Rajaguguk, MA mengharapkan kerjasama ini harus mampu membangkitakan kualitas SDM guru yang mampu bersaing secara global, selanjutnya Wakil Rektor UKI mewakili Rektor membuka acara webinar secara resmi.
Dalam paparnya, Dekan FKIP UKI, Dr. Drs. Sunarto, M. Hum., menyampaikan akibat pandemi covid-19 dalam pembelajaran, yaitu “Belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi Covid-19; aktivitas dan tugas belajar dari rumah dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah”. Pendidikan pada Abad 21, lanjutnya “mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)”. Peran guru pada masa pandemi covid-19 ini, “mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi” tandasnya.
Sedsangkan Dr. Rebecca E. Laiya, MRE, selaku dosen STKIP Nias Selatan, menguraikan, terkait pandangan belajar dalam norma baru, yaitu “alam adalah laboratorium hidup dan pembentukan karakter, belajar untuk meraih karakter (magnanimous) dan belajar sesuai konteks, orang tua adalah guru yang utama bagi anak, children are born persons atau unik, materi dan media tidak harus online bisa membaca, pengamatan dan lain-lain, dan principle based method”. Lebih lanjut dikatakan, “penerapan praktisnya adalah pembelajaran berbasis karakter, pembelajaran mandiri, dan pembelajaran kontekstual”.
Sementara Ketua STKIP Nias Selatan, Dr. Martiman S. Sarumaha, M.Pd., menyoroti tentang “Tantangan Pembelajaran Daring di Masa Pandemi”. Ada banyak tantangan dan persoalan pendidikan, diantaranya terkait sarana dan prasarana yang kurang mendukung dan hampir tidak memadai, kekurangan guru, mahalnya biaya pendidikan, ketidakmampuan menguasai teknologi terlebih disaat pembelajaran secara daring. “Unsur humanis dari manusia itu penting dan tidak dapat tergantikan oleh mesin dan perangkat online”, tegasnya.
Sedangkan penggagas acara yang juga ketua panitia webinar sekaligus dosen Pascasarjana UKI Jakarta, Dr. Dra. Erni Murniarti, M.Pd., S.H, menyikapi “problematika dan solusi pembelajaran daring pada era normal baru”. Problematika yang dipaparkan, terkait kebijakan pemerintah, perangkat yang digunakan, kesiapan orang tua mendampingi anak, persiapan guru yang sangat terbatas, aplikasi yang digunakan hingga jaringan. Menurutnya, “Solusi pembelajaran daring adalah menggunakan Learning Management System (LMS), yaitu aplikasi yang dapat membantu merencanakan, mengimplementasikan proses pembelajaran”.
Sesi akhir, moderator memberikan kesempatan pada peserta untuk mengajukan pertanyaan melalui ruang chat atau secara langsung. Selanjutnya, sebelum acara ditutup ada pembagian doorprize yang dimpimpin oleh Taat Guswantoro, M.Si. APM.