NAWACITAPOST.COM - Kepala Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Muara Teweh, M. Ading Saidhy, kembali mengikuti rangkaian kegiatan World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 yang dilaksanakan di Bali pada Kamis (16/04/2026) pukul 08.00 WITA.
Pada sesi lanjutan hari ini, kegiatan diisi dengan diskusi dan sharing program pemasyarakatan dari berbagai negara, dengan fokus materi yang disampaikan oleh narasumber dari Inggris (United Kingdom).
Dalam sesi tersebut, dibahas pendekatan berbasis trauma (trauma-informed approach) dalam sistem peradilan, khususnya melalui studi kasus (vignette) yang menggambarkan perjalanan seorang anak yang mengalami berbagai Adverse Childhood Experiences (ACEs) atau pengalaman buruk masa kecil.
Baca Juga: Rayakan Milad ke 24, Warga PSHT Ranting Patianrowo Ramaikan Media Sosial
Kasus yang dipaparkan menunjukkan bagaimana seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan, ketidakstabilan keluarga, serta pengabaian emosional, pada akhirnya berhadapan dengan sistem peradilan pidana di usia remaja. Dalam pendekatan ini, perilaku menyimpang tidak semata-mata dilihat sebagai pelanggaran hukum, namun juga sebagai dampak dari trauma yang tidak tertangani sejak dini.
Pendekatan berbasis trauma yang diterapkan di Inggris menekankan pentingnya pemahaman terhadap latar belakang individu, termasuk faktor psikologis, sosial, dan lingkungan, dalam menentukan intervensi yang tepat bagi pelaku, khususnya anak.
Kepala Bapas Muara Teweh, M. Ading Saidhy, menyampaikan bahwa materi ini memberikan perspektif penting dalam melihat penanganan klien pemasyarakatan secara lebih komprehensif.
Baca Juga: Lapas Rantauprapat Gelar Apel Ikrar Zero Halinar, Perkuat Komitmen Integritas Tahun 2026
“Pendekatan berbasis trauma memberikan sudut pandang yang lebih humanis dalam sistem peradilan. Hal ini menjadi pembelajaran penting bagi kami dalam memperkuat peran Pembimbing Kemasyarakatan, khususnya dalam memahami latar belakang klien secara lebih mendalam,” ujar Ading.
Melalui keikutsertaan dalam forum internasional ini, diharapkan dapat memperkaya wawasan serta mendorong penguatan praktik pembimbingan kemasyarakatan di Indonesia agar semakin adaptif, humanis, dan berorientasi pada pemulihan.
(Humas Bapas Muara Teweh)