Bagi masyarakat Ampel, Gule Maryam bukan sekadar makanan, melainkan warisan sejarah dan identitas kawasan.
“Dari makanan seperti Gule Maryam, kita belajar kesabaran dan ketekunan. Prosesnya panjang, tapi hasilnya membawa kelezatan dan makna. Ini cerminan kehidupan dan juga semangat kebangsaan,” ujar Reni Astuti dalam pidatonya.
Selain menyajikan kuliner, acara juga diwarnai dengan bazar UMKM lokal yang menjual aneka makanan tradisional seperti rawon, nasi madura, bebek songkem, hingga kue pepe, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelaku usaha kecil di kawasan religi Ampel.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Fauzie Mustaqiem Yos, Lurah Ampel, perwakilan Camat Semampir, dan jajaran pengurus Serikat Pedagang Kaki Lima (SPEKEL) Surabaya.
Fauzie Mustaqiem Yos menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun antara masyarakat, pemerintah, dan DPR RI.
“Event seperti ini harus terus dilanjutkan. Selain menjaga budaya, juga bisa menghidupkan kembali kawasan Serambi Ampel sebagai pusat wisata religi dan ekonomi warga,” ujarnya.
Sementara itu, Siti Maryam (45), warga setempat, mengaku gembira dengan digelarnya festival ini. “Kami senang bisa berkumpul, menikmati Gule Maryam, dan mengenalkan budaya Ampel kepada anak-anak. Terima kasih kepada Bu Reni dan semua pihak yang sudah mendukung,” katanya sambil menikmati sepiring gule hangat. ***