NAWACITAPOST.com - Sebuah gelombang kritik yang tajam dari Prof. Tjipta Lesmana mengguncang panggung politik Indonesia setelah ia menyuarakan kekhawatiran serius terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang diduga melecehkan guru besar.
Dalam sebuah siaran di kanal YouTube Asanesia TV, Prof Tjipta mempertanyakan langkah-langkah Presiden Jokowi terkait isu-isu kritis di luar kendali rektor dan pemerintah.
"Turun gunungnya UI, UGM, UII, Unpad, Usu, UB, Unad, Unhas kemarin sungguh menghebohkan. UI menjadi patokan, namun seakan enggan menghadapi isu-isu kritis di luar kendali rektor dan pemerintah," kata Prof. Tjipta, dikutip Kamis (8/2/2024).
Baca Juga: Terhadap Kritikan Akademisi ke Jokowi, SBY-JK: Pemerintah Jangan Abaikan!
Prof Tjipta dengan tegas mengingatkan Jokowi untuk mematuhi etika dan moralitas. Menurutnya, para intelektual itu menuntut koreksi tindak tanduk presiden terhadap demokrasi.
"Dalam keadaan sangat darurat ini, UI telah keluar kandang, menunjukkan betapa seriusnya situasi saat ini. Teks pesan dari UI mencerminkan seriusitas yang meminta perhatian penuh terhadap demokrasi," ujar Prof. Tjipta.
Kritik lebih lanjut ditujukan pada klaim bahwa presiden boleh berpihak dalam pemilu. Presiden harus impartial, tidak boleh seenaknya berpihak. Ini melanggar etika dan moralitas.
"Jangan lupa, kita memiliki guru besar etika seperti Von Magnis Suseno yang menegaskan prinsip-prinsip moralitas," kata dia.
Dalam akhir pernyataannya, Prof. Tjipta Lesmana mengingatkan Jokowi bahwa situasi ini sangat darurat dan harus ditangani dengan hati-hati. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap Jokowi yang, menurutnya, mungkin kurang memahami sejarah dan literasi TNI.
"Dalam situasi seperti sekarang, Presiden perlu menyadari potensi kekerasan massa. Jangan sampai kita mengulang tragedi Mei '98 atau bahkan lebih parah," tegas Prof. Tjipta Lesmana.
Baca Juga: Kemenkumham Banten Dorong Layanan Rehabilitasi Satuan Kerja Pemasyarakatan
Ia mengingatkan bahwa perbedaan situasi saat ini dengan tahun '98 sangat signifikan, di mana rakyat kini makin nekad dan makin banyak yang kelaparan. Prof. Tjipta Lesmana juga menyampaikan kritik terhadap upaya politik yang mungkin dilakukan Jokowi untuk mendorong putranya, Gibran, menjadi wakil presiden.
"Tidak ada yang salah dengan ambisi politik, tetapi harus dijalankan dengan benar. Jangan sampai harga diri manusia dijual oleh kekuasaan," tandasnya.