Senin, 15 Juni 2026

Begini Modus Tinder Swindler Tipu Korban

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Jumat, 25 Agustus 2023 | 11:08 WIB

NAWACITApost.com - Istilah "Tinder Swindler" menjadi perbincangan warganet Indonesia, terutama di platform mikroblogging Twitter. Beberapa di antaranya bahkan sempat menulis "Tinder Swindler versi Indonesia".

Istilah Tinder Swindler versi Indonesia dikenal lewat aplikasi kencan online (dating apps), Tinder. Namun, belakangan ia dikenal sebagai sebuah aksi penipuan bernuansa asmara “Tinder Swindler” yang dijalankan dengan tertata rapi.

Mereka atau para penipu itu tahu betul cara menarik hati wanita yang sedang mencoba berusaha mencari pasangan. Hal itulah yang membuat para korban terbuai sampai akhirnya masuk ke dalam perangkap dan jadi korban penipuan.

Salah seorang korban berinisial LN mengatakan, pelaku bersikap sangat sopan meskipun komunikasi dilakukan melalui dating apps dan WhatsApp. “Pelaku ini membangun image pria baik. Tidak pernah minta foto yang enggak-enggak ke saya, tidak pernah ngomong yang enggak-enggak juga,” ujar LN, beberapa waktu lalu dikutip dari Kompas.

Selain itu, pelaku mengaku berstatus lajang. Hal ini cukup berbeda dibandingkan korban “Tinder Swindler” versi Indonesia lainnya yang mengaku berstatus pernah menikah, tetapi telah bercerai. Status pelaku ini pula yang membuat LN mau untuk melanjutkan komunikasinya.

“Padahal, kalau si pelaku ini ngaku duda, pasti aku enggak akan mau lanjut. Tapi ini dia tahu betul cowok yang aku mau seperti apa,” ujar LN.

Hal lain yang membuat hati LN klepek-klepek adalah pelaku bersikap romantis. LN berkomunikasi intens dengan pelaku sekitar dua bulan. Dia bahkan masih mengingat hal-hal kecil yang pernah menjadi bahan obrolan.

“Misalnya, anak saya berapa, saya sukanya apa, enggak sukanya apa, saya pernah cerita apa, dia ingat betul. Mungkin dia nyatet kali ya. Tapi itulah yang membuat wanita itu nyaman, gitu,” ujar LN.

Terlebih lagi, pelaku yang mengaku warga Malaysia itu berjanji suatu hari nanti akan datang ke Jakarta untuk menikah dengan LN. Setelah kepercayaan terbangun, barulah pelaku mengajak LN untuk berbisnis di website dagang palsu yang ternyata dibikin sendiri oleh komplotan pelaku. Dalam bisnis palsu itu, LN merugi sekitar 8.040 dollar Amerika Serikat.

Berdasarkan keterangan para korban, pertemuan dengan pelaku penipuan seluruhnya melalui aplikasi kencan atau dating apps. Pelaku berupaya meraih kepercayaan dari korban terlebih dahulu dengan berbagai cara.

Setelah berhasil membangun kepercayaan, pelaku menyinggung bisnis jual beli daring yang disebutnya sebagai salah satu sumber kekayaannya selama ini. Korban pertama-tama diminta membuat akun di website itu. Artinya, korban mendaftarkan diri menjadi merchant di sana.

Sekilas, mekanisme kerjanya seperti dropshipper, yaitu pemilik toko tidak mesti berurusan dengan barang dan pengemasan. Pemilik toko hanya membeli item di daftar yang disediakan, lalu menjualnya kembali. Pelaku menjanjikan keuntungan 10 persen setiap barang laku terjual.

Tanpa disadari, modal yang digelontorkan sudah banyak, namun keuntungan itu tak pernah bisa diambil oleh para korban. Pada momen inilah biasanya para korban baru menyadari bahwa mereka telah tertipu.

Kriminolog sekaligus pakar psikologi Reza Indragiri Amriel menilai, pelaku penipuan melalui aplikasi kencan menyelidiki terlebih dahulu latar belakang calon korbannya. Menurut dia, para pelaku sengaja menargetkan korban yang serius mencari pasangan hidup karena usia yang tak lagi muda.

"Jangan-jangan pelaku sudah melakukan victim profilling. Jadi, yang dia targetkan adalah perempuan yang secara umum dianggap punya 'kelemahan'. Misal, usia sudah telat menikah," terang dia.

Istilah "Tinder Swindler" sebenarnya adalah sebuah judul film dokumenter orisinil yang tayang di platform video on demand, Netflix dengan judul "The Tinder Swindler". Film The Tinder Swindler mulai tayang bulan Februari lalu dan sukses menyita perhatian banyak penonton seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Serial ini bahkan sempat menduduki jajaran trending serial Netflix.

Film yang disutradarai oleh Felicity Morris ini mengungkap modus penipuan berkedok asmara yang terjadi di Eropa itu sempat menjadi headline di banyak negara. Rupanya, kisah serupa juga terjadi di Indonesia.

 

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini