Kematian Floyd, yang terjadi pada Senin (25/5/2020) telah memicu protes yang disertai kekerasan di banyak kota di AS, dan kembali menyoroti dugaan kebrutalan polisi terhadap orang kulit hitam. Hingga Kamis, unjuk rasa telah berlangsung di kota-kota termasuk Atlanta, Washington D.C., Denver, Detroit and Los Angeles untuk hari ke-10 berturut-turut.
Berpidato di upacara peringatan yang digelar di kapel North Central University, Minneapolis, Sharpton mengatakan nasib Floyd, yang tewas tertahan di tanah di bawah lutut polisi kulit putih, melambangkan pengalaman universal kebrutalan polisi terhadap orang Afrika-Amerika.
Baca Juga : Data Pasien Corona per Hari ini Capai 29.521 Kasus
“George Floyd seharusnya tidak termasuk yang meninggal. Dia tidak mati karena kondisi kesehatan yang sama. Dia meninggal karena kerusakan peradilan pidana Amerika," kata Sharpton sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (5/6/2020). "Sudah waktunya bagi kita untuk berdiri dalam nama George dan berkata, 'Lepaskan lututmu dari leher kami.'"
Sharpton kemudian memimpin para pelayat mengheningkan cipta Selama delapan menit dan 46, waktu yang sama dengan saat Floyd berbaring di jalan Minneapolis dengan lutut menekan lehernya.
Selain di Minneapolis, acara serupa juga digelar di Brooklyn, New York, yang merupakan titik panas demonstrasi yang dipicu kematian Floyd.
Pada Rabu (3/6/2020), Associated Press melaporkan lebih dari 10.000 orang ditangkap karena penjarahan dan tindak kekerasan lain dalam protes-protes di seluruh Amerika sejak pekan lalu.