internasional

Dampak Perang Iran-AS untuk Indonesia

Kamis, 9 Januari 2020 | 06:54 WIB
Jakarta, NAWACITA - Setelah serangan rudal Iran ke markas tentara AS di Irak dekat Bandara, harga minyak melonjak lebih dari 4 persen. Benchmark internasional, minyak mentah Brent naik lebih dari 4 persen ke sesi tertinggi USD 71,75 per barel. Ini kali pertama tembus USD 70 sejak krisis harga BBM. Bagaimana dengan saham? Saham berjangka AS jatuh pada Selasa malam, dengan Dow Jones Industrial Average berjangka turun lebih dari 400 poin pada titik terendah, menunjukkan kerugian lebih besar dari 300 poin pada pembukaan Rabu. S&P 500 dan Nasdaq 100 futures menunjukkan kerugian setidaknya 1 persen. Walau kurs Rupiah melemah namun masih pada band yang fluktuatif. Tapi bukan tidak mungkin akan terjun bebas bila situasi semakin memanas. Mengapa?
Baca Juga: Membongkar Jiwasraya

Yang ditakuti para trader minyak bukanlah stok minyak tidak tersedia tetapi ancaman akan logistik yang tidak aman. Karena para trader mengkawatirkan bila Iran kepepet dengan serangan balasan dari AS, bukan tidak mungkin Iran akan menyeret perang ke selat Hormuz. Kalau itu terjadi maka dipastikan kontrak delivery minyak sebesar 40% konsumsi dunia akan berujung default. Akan terjadi kelangkaan BBM. Walau belum terjadi, namun aspek psikologis dari serangan Iran terhadap markas AS di Irak sudah merupakan sinyal bagi trader untuk mengantisipasinya dengan kenaikan harga minyak. Kenaikan harga minyak selalu sistemik.

Tadi saya makan malam dengan Direksi BUMN. Dia tanya ke saya, apa dampaknya terhadap Indonesia dengan eskalasi ketegangan politik antara Iran dan AS? Saya jawab singat, “ sangat mengkawatirkan” Dia berkerut kening. Saya balik tanya. Apakah ada pemimpin bisa tahan bila 3 bulan BBM langka” Dia terdiam, Akhirnya menghela napas. “ dampak nya bisa sistemik dan dilematis. Kalau mengikuti trend harga naik akibat konflik Timur tengah, publik pasti akan marah. Karena harga bisa naik 3 kali lipat. Kalau tidak mengikuti, APBN pasti jebol menutupi subsidi BBM. Tapi yang lebih mengerikan adalah langkanya BBM. Maklum stok BBM kita hanya 12 hari saja. Kalau konflik berlangsung lama, maka entah apa yang terjadi pada Indonesia.

Tapi yang akan mengalami situasi buruk bukan hanya Indonesia tetapi negara Eropa, Cina, Jepang serta lainnya akan suffering akibat harga BBM yang melambung.
“ Jadi perang yang dipicu oleh Trump itu sangat bodoh, Karena dampaknya akan merugikan para sekutunya” kata teman saya.
“ Ya, itu sebab , mengapa para sekutu AS tidak memberikan dukungan kepada AS. Bahkan warga negara AS, menyalahkan Trump. Apalagi dengan adanya serangan balasan dari Iran, itu semakin membuat reputasi AS semakin buruk. Pembunuhan terhadap Soelaimani itu benar benar suatu kebodohan.”
“ Seharusnya AS sebagai negara besar bisa menjaga kredibilitasnya sebagai polisi dunia dengan cara elegant. Masih banyak cara lain selain membunuh orang kedua di Iran yang sangat dihormati oleh rakyat Iran”
Baca Juga: China, Iran dan Indonesia Negara Adidaya Masa Depan

Jadi gimana masa depan ekonomi dari adanya konflik AS -iran ini? Semua negara sedang painfull akibat krisis ekonomi. Perang bukanlah cara bagus untuk proses recovery economy. Tidak ada satupun negara yang siap berperang. Sikap Trump adalah paradox kalau ingin menegakan perdamaian di Timur Tengah. Negara Arab, Eropa, Asia, sedang berupaya keluar dari krisis. Semua sedang melakukan efisiensi anggaran dan mencari solusi untuk menigkatkan ekonomi. Perang butuh ongkos mahal. Konflik AS - Iran akan menyulitkan semua negara untuk keluar dari krisis. Kata saya.

Teman saya mengangguk. “ Itu artinya semua akan baik baik saja. Pasti ada solusi untuk menghentikan perang Iran-AS” katanya. Saya mengakhiri makan malam itu dengan setengah pening akibat Vodka. Ah, Vodka Rusia membuat orang kadang lupa diri, dan mungkin itu yang membuat Trump lupa siapa musuhnya. Bangsa Persia yang tidak pernah terkalahkan.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Tags

Terkini

Trump Menyerah Pada Iran Demi Pasokan Minyak

Rabu, 8 April 2026 | 16:23 WIB