internasional

Krisis Sudan : 30 Tewas Termasuk Seorang Anak Kecil, PBB Respons Keras

Rabu, 5 Juni 2019 | 21:40 WIB
Khartoum, NAWACITA - Krisis Sudan telah masuk tingkatan berbahaya. Setidaknya 30 orang tewas setelah pasukan RSF Paramiliter Sudan pimpinan Mohamed Hamdan Dagalo yang dikenal sebagai Hemedti, masuk ke Ibukota Khartoum, melancarkan operasi penangkapan besar-besaran terhadap peserta aksi unjuk rasa di depan Markas Militer Kementerian Pertahanan, tak jauh dari Khartoum International Airport.

Paramiliter bersenjata berat menyerang lokasi kemah para demonstran di Ibukota, yang telah menjadi pusat kampanye untuk membawa reformasi demokrasi tak lama setelah fajar menyingsing pada Senin, 3 Mei 2019 kemarin. Militer menembakkan gas air mata dan amunisi hidup ke arah pemrotes.

Pasukan Dukungan Cepat (RSF) sangat ditakuti rakyat, karena dipersenjatai lengkap. Pasukan ini merupakan andalan mantan Presiden Omar al-Bashir, yang baru saja digulingkan setelah memerintah dengan represif selama 30 tahun.

Faksi-faksi di dalam Dewan Militer nampaknya memutuskan untuk mengakhiri protes pro-reformasi setelah berbulan-bulan negosiasi dengan para pemimpin sipil dan aktivis untuk transisi ke demokrasi, menemui jalan buntu.

Mohammed Yousef al-Mustafa, juru bicara Asosiasi Profesional Sudan, salah satu yang mempelopori aksi protes mengatakan, pegiat pro-reformasi tetap menentang kekuasaan militer, meskipun mereka harus menderita akibat kekerasan.

“Ini adalah titik kritis dalam revolusi kami. Dewan militer telah memilih eskalasi dan konfrontasi. Sekarang situasinya adalah kami atau mereka, tidak ada cara lain," ucap Mustafa, seperti dilansir The Guardian, Senin (3/6/2019) waktu setempat.

Asosiasi medis yang berafiliasi dengan demontran menjelaskan, dari 30 orang yang tewas, ada seorang anak berusia delapan tahun di dalamnya. Dugaan kuat mereka, jumlah korban tewas akan bertambah besar mengingat pencarian jenazah di lokasi bentrokan masih dilakukan.

Rumah sakit di jantung Kota Khartoum tengah berjuang untuk mengatasi korban luka-luka dan meminta dokter bedah untuk menjadi sukarelawan untuk membantu.

"Orang-orang yang terluka berbaring di tanah di ruang tunggu karena tidak ada cukup tempat tidur," ujar Azza al-Amel, seorang dokter di rumah sakit Royal Care.

Ketua Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, mengutuk kekerasan yang terjadi dan mengatakan seharusnya Dewan Militer Sudan melindungi warga sipil (bukan malah sebaliknya).

Sementara itu, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui Kepala Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet menyebut krisis Sudan yang terjadi sejak Senin kemarin sebagai "kemunduran nyata" dan mendesak pemerintah militer Sudan untuk segera menghentikan serangan seperti itu.

Bachelet juga memberi sinyal kuat untuk membuka penyelidikan independen tentang penggunaan kekuatan berlebihan terhadap pengunjuk rasa.

Pada bagian lain, media Amerika Serikat The Washington Post menulis bahwa pasukan keamanan di Sudan melakukan penggerebekan di seluruh ibukota, menewaskan sedikitnya 30 orang. Dan kekerasan menandai potensi titik balik dalam aksi protes selama berbulan-bulan di negara itu.

Terkini

Trump Menyerah Pada Iran Demi Pasokan Minyak

Rabu, 8 April 2026 | 16:23 WIB