Jepang, NAWACITA- Menteri Pertahanan Jepang Takeshi Iwaya mengatakan bahwa Korea Utara masih menjadi ancaman bagi keamanan global. Ia juga mengajak komunitas internasional untuk bekerja bersama-sama dalam mewujudkan denuklirisasi di Semenanjung Korea.
Iwaya juga mengkritik uji coba misil jarak pendek oleh Korut yang dinilainya sebagai pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pyongyang meluncurkan roket balistik jarak pendek pada 4 dan 9 Mei lalu, sekitar dua bulan usai Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un bertemu di Vietnam. Trump tidak mempermasalahkan uji coba roket itu, yang disebutnya hanyalah "senjata-senjata kecil."
Pertemuan Trump dan Kim di Vietnam tidak membuahkan kesepakatan apapun. Negosiasi lanjutan usai pertemuan tersebut juga tersendat.
"Hal mengkhawatirkan saat ini adalah tekad dari komunitas internasional mulai meredup, sementara Korut belum menyelesaikan denuklirisasi secara menyeluruh," tutur Iwaya, dilansir dari laman Kyodo News.
"Sekarang saatnya melakukan upaya bersama untuk mengimplementasikan resolusi PBB demi menghentikan ambisi nuklir dan misil balistik Korut," sambungnya.
Iwaya menambahkan Tokyo ingin berdialog langsung dengan Pyongyang. "Jepang ingin menormalisasi hubungan dengan Korut melalui sebuah resolusi komprehensif dalam berbagai isu, termasuk penculikan," ungkap Iwaya. Ia merujuk pada dugaan penculikan terhadap sejumlah warga Jepang oleh Korut di masa lalu.
Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga mengungkapkan keinginannya untuk bertemu Kim Jong-un "tanpa ada syarat" apapun. PM Abe juga mengutarakan keinginannya untuk menyelesaikan isu penculikan di tahun 1970-198