NAWACITApost.com - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) meminta agar generasi muda tak latah dengan meminjam uang dari pinjaman online (pinjol). Generasi muda harus bisa bersikap bijak memahami dan mengecek kemampuan membayar yang dimiliki di tengah kemudahan akses kebutuhan finansial.
Ketua Bidang Hukum, Etika dan Perlindungan Konsumen di Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Ivan Tambunan berharap, generasi muda mengecek kembali terkait pinjaman tersebut apakah memang benar-benar dibutuhkan dan tepat guna. "Intinya, jangan sampai karena sekarang akses pinjaman mudah lalu jadi latah dalam mengambil pinjaman," ujarnya, dikutip Kamis (12/10/2023).
Selama ini, rata-rata perusahaan pinjol menggunakan data credit history, dari penyelenggara yang menyediakan biro kredit sehingga data perkreditan pengguna tercatat di biro kredit tersebut. Namun, penyelenggara belum terhubung langsung melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Di sisi lain, lanjut Ivan, perusahaan pinjol juga pernah mengalami kesulitan penagihan ketika penerima dana ternyata mangkir dari kewajibannya.
Digital Economy Researcher dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda memaparkan penyaluran pembiayaan ke sektor konsumtif semakin meningkat pada 2021. Dia memprediksi pada saat yang sama terdapat pengalihan dari kartu kredit dan pembiayaan multiguna.
Hal ini, kata dia, dapat dilihat dari jumlah kantor cabang menurun dan pertumbuhan kartu kredit hanya 0,8 persen, pada Desember 2022. Sedangkan, pertumbuhan pinjaman online mencapai 71 persen pada periode yang sama dan 18 persen hingga Juli 2023.
Berdasarkan hal tersebut, dia memperkirakan adanya perpindahan masyarakat yang menggunakan kartu kredit ke pinjaman online. Dia menjelaskan profil peminjam usia muda saat ini sangat potensial.
Berdasarkan data pinjaman rata-rata yang dikumpulkan oleh Indef per Juni 2023, peminjam di bawah usia 19 tahun adalah Rp2,3 juta dan peminjam dengan rentang usia 20-34 tahun adalah Rp2,5 juta, dengan pendapatan rata-rata pemuda di Indonesia Rp2 juta per bulan.
Artinya, pendapatan generasi muda lebih rendah dibandingkan dengan hutang di pinjaman online. Sifat konsumtif menjadi salah satu daya tarik penduduk usia muda.