Jombang, NAWACITAPOST.COM - Masyarakat di sekitar kawasan hutan Jombang memiliki kebiasaan atau tradisi unik saat memasuki musim penghujan, yakni berburu ulat jati atau yang biasa disebut enthong.
Di awal musim penghujan merupakan waktu berseminya daun pohon jati yang dibarengi dengan banyaknya ulat jati yang bermetamorfosis menjadi kepompong atau yang biasa disebut enthong.
Awalnya enthong jati adalah sesuatu yang dianggap remeh tak berguna sekarang menjadi bernilai ekonomis tinggi.
Harga kepompong atau enthong jati saat ini tergolong mahal. Harganya bisa tembus Rp 100 ribu per kilogram.
Biasanya para pencari enthung jati juga menjual secara takaran, sehingga lebih terjangkau. Biasanya dijual dengan takaran baskom kecil.
Mahalnya harga kepompong dari ulat daun jati itu sehingga banyak diburu warga. Enthong jati biasanya akan muncul dalam jumlah yang sangat banyak pada saat awal musim penghujan. Kemunculan enthung jati ini menjadi berkah tersendiri bagi warga sekitar hutan.
Baca Juga: Punya Hutan Larangan, Warga Kampung Adat Cireundeu Tak Makan Nasi Selama Ratusan Tahun, Kok Bisa?
Enthung jati banyak dijual saat masih hidup (mentah) maupun sudah dalam bentuk olahan yang siap makan. Hewan yang memiliki nama lain pupa itu biasanya dimasak berupa tumis, sayur, digoreng, maupun di oseng-oseng.
Salah seorang warga pemburu enthung jati, Sutri, yang tinggal disekitar hutan jati, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur mengaku setiap hari rata-rata bisa mendapat enthung jati hingga setengah kilo . Per setengah kilo di jual seharga Rp 50 ribu. Sedangkan untuk per kilogramnya Rp100 ribu.
Baca Juga: Laksanakan Giat Monitoring, KPH Jombang Gelar Trail Keliling Hutan
“Ini sedang mencari enthong nanti untuk dijual hasilnya lumayan buat menambah penghasilan,” ujarnya saat mencari enthong jati di kawasan Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Ploso Barat, pada Sabtu (24/12/2023).
Diketahui, warga sekitar atau pencari enthung itu biasanya mencari dengan cara menyibak daun jati yang sudah jatuh ke tanah.
Artikel Terkait
LMDH Wonomulyo Bersama Masyarakat Desa Arjowilagun Perbaiki Jalan Rusak
Laksanakan Giat Monitoring, KPH Jombang Gelar Trail Keliling Hutan
Punya Hutan Larangan, Warga Kampung Adat Cireundeu Tak Makan Nasi Selama Ratusan Tahun, Kok Bisa?
Kunjungi Jambi, Menteri LHK Bersama Dubes Norwegia Apresiasi Keberhasilan Pengelolaan Gambut dan Hutan Sosial
Tiga Satker KLHK Raih Penghargaan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi