daerah

Ribut Reklame di Cagar Budaya Viaduk, Arek Suroboyo harus Tahu Sejarahnya!

Minggu, 26 Februari 2023 | 19:23 WIB
Rel Kereta Api Viaduk jalan Nias Surabaya

Nama “Semut” disematkan karena lokasinya berada di Kampung Semut. Sementara nama “Kota” juga digunakan karena lokasi Kampung Semut berada dekat Kota Surabaya.


Di era yang sama, 1878, juga dibangun Stasiun Gubeng. Jaraknya sekitar 6 km di selatan Stasiun Kota. Secara arsitektur, keduanya memiliki langgam yang sama.


Sementara kampung-kampung di luar tapal batas kota belumlah disebut kota, tetapi njaba kota atau luar kota seperti Tunjungan, Ketabang, Gubeng, Darmo hingga Wonokromo.


Seiring dengan berjalannya waktu, Surabaya semakin berkembang. Pertumbuhan ekonomi semakin baik. Pembangunan semakin meluas, khususnya ke arah selatan. Kawasan permukiman di Jaba Kota kian tertata. Infrastruktur kawasan permukiman semakin lengkap.


Ada kantor kantor pemerintahan, rumah sakit, gereja, sekolah, taman taman, jalan dan jembatan. Selanjutnya kawasan njaba kota itu disebut bovenstad alias kota elit.


Lalu lintas kendaraan semakin banyak ketika memasuki abad 20. Karenanya, infrastruktur jalan semakin diperbaiki. Termasuk menata persimpangan arus kendaraan dan kereta api yang terdapat di Gubeng (Kertajaya dan Gubeng).


Rel kereta api, yang melintas jalan darat, dinaikkan dengan membuat viaduk. Namanya Viaduct Gubeng. Viaduk ini melintas di atas jalan yang menjadi pertemuan jalan Kertajaya dan jalan Sulawesi.


Viaduk dibangun pada tahun 1926. Dengan demikian, pembangunan viaduk itu dapat mengatasi terjadinya kemacetan di jalan dan menghindari potensi kecelakaan.


Dalam pembangunan viaduk yang menjadi sarana umum, secara fungsi adalah untuk menghindari persilangan kereta api dengan kendaraan darat seperti mobil, sepeda dan sebagainya dan untuk memperlancar jalannya kereta api.


Tidak kalah pentingnya adalah estetika dalam design arsitektur bangunan agar serasi dengan penataan tata kota. Seorang arsitek terkenal HP Berlage asal Belanda pada 1923, yang berbicara di depan Dewan Kota di Surabaya ketika ada proyek pembangunan jembatan Gubeng, dia mengatakan bahwa pembangunan haruslah memikirkan estetika kota, di samping juga fungsi bangunan itu sendiri (Jembatan Gubeng).


Karenanya design Viaduct Gubeng dibuat agar penumpang kereta bisa menikmati pemandangan di bawah (urban view) ketika kereta melewati viaduk. Pemandangan bawah yang dapat dilihat dari balik jendela kaca kereta adalah hiburan bagi penumpang.


Begitu pun sebaliknya, kereta yang sedang lewat di Viaduct Gubeng juga menjadi pemandangan eksotik bagi mereka yang ada di bawah. Dulu, anak-anak kecil bersama keluarga selalu menjadikan kereta lewat sebagai obyek wisata murah. Anak anak senang melambaikan tangan kepada para penumpang kereta.


“Da..da… .. Da.. da.. “, begitu sapaan anak anak kepada penumpang kereta.


Apakah aksi ini sudah hilang? Tidak. Aktivitasnya memang sudah berkurang. Tidak sesering seperti dulu lagi.


Untuk akses saling sapa antara penumpang dan warga di luar kereta, pagar viaduk dibuat rendah sehingga bagian dari roda kereta kelihatan. Minimal jendela kaca kereta tidak tertutup.

Halaman:

Tags

Terkini