daerah

Kisah Pilu Sri Hartati di Surabaya, Ibu yang Stroke Berjuang Bertahan Hidup, Anak 16 Tahun Rela Tinggalkan Bangku SMA

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:44 WIB

SURABAYA, NAWACITAPOST.COM – Di sebuah kamar kontrakan berukuran 3x5 meter di kawasan Asri Gang 22, Surabaya, Sri Hartati (40) menjalani hari-hari yang tidak mudah. Sejak terserang stroke tujuh bulan lalu, aktivitasnya terbatas. Di tengah kondisi kesehatan yang belum pulih, ia masih berusaha mencari nafkah dengan berjualan pentol secara setoran, yang memberinya penghasilan sekitar Rp15 ribu sehari.

Di balik perjuangan itu, ada tiga anak yang menjadi tanggung jawabnya. Anak sulungnya, Vincent, baru berusia 16 tahun. Anak keduanya berusia tujuh tahun dan duduk di kelas 1 sekolah dasar, sedangkan si bungsu baru berusia dua tahun. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini harus bertahan dengan segala daya, meski keadaan kian sulit sejak Sri jatuh sakit.

Kisah keluarga tersebut diketahui anggota Komisi B DPRD Surabaya dari Fraksi PAN, Zuhrotul Mar’ah, saat turun langsung menemui masyarakat di sela kesibukannya menjalankan tugas sebagai wakil rakyat. Dalam kunjungan itu, ia menemukan persoalan kemiskinan yang bukan sekadar tentang penghasilan minim, tetapi juga menyangkut kesehatan, keberlangsungan pendidikan anak, serta akses terhadap bantuan sosial.

Hal yang paling mengusik hati adalah keputusan Vincent meninggalkan bangku SMA ketika masih kelas 2. Bukan karena tidak ingin belajar atau mengejar cita-cita, melainkan karena merasa harus membantu ibunya dan menghidupi kedua adiknya.

Di usia yang seharusnya diisi dengan kegiatan belajar dan mempersiapkan masa depan, Vincent justru harus bekerja di sebuah pabrik roti. Ia bekerja mulai pukul 15.00 hingga pukul 01.00 dini hari dengan upah sekitar Rp1,5 juta per bulan. Penghasilan itu menjadi salah satu penopang keluarga di tengah kondisi ibunya yang sakit dan kebutuhan kedua adiknya yang terus berjalan.

Keputusan Vincent tentu bukan pilihan yang mudah. Di balik keberaniannya bekerja, ada harapan seorang anak agar ibunya tetap bisa bertahan dan kedua adiknya tetap memperoleh kebutuhan sehari-hari. Namun, di saat yang sama, masa depan pendidikannya sendiri terpaksa dikorbankan oleh keadaan.

Suami Masih di Jambi, Belum Mampu Pulang

Kesulitan keluarga Sri tidak berhenti di situ. Suaminya saat ini masih berada di Jambi dan belum bisa pulang ke Surabaya karena tidak memiliki ongkos perjalanan.

Sebelumnya, keluarga ini sempat merantau ke Jambi dengan harapan bisa memperbaiki kehidupan. Sang suami menjalankan usaha kecil di bidang pengolahan cangkang telur. Namun, usaha tersebut berakhir dengan kerugian setelah ia mengaku ditipu oleh rekannya sendiri.

Setelah sekitar enam bulan berada di Jambi, Sri akhirnya kembali ke Surabaya bersama ketiga anaknya. Sementara sang suami masih tertahan di perantauan, Sri harus menghadapi kondisi kesehatannya dan memenuhi kebutuhan keluarga dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Kini, keluarga itu harus membayar sewa kontrakan Rp400 ribu setiap bulan. Dari penghasilan sekitar Rp15 ribu sehari sebagai penjual pentol, Sri berusaha memenuhi kebutuhan hidup. Sementara Vincent bekerja untuk membantu menutup kekurangan yang tidak mampu dipenuhi ibunya.

Berharap Bantuan yang Sesuai dengan Kondisi Nyata

Di tengah situasi tersebut, persoalan lain muncul ketika keluarga Sri tercatat dalam desil 6–10 pada pendataan kesejahteraan sosial. Menurut keterangan yang disampaikan saat kunjungan, Sri mengaku belum pernah menerima bantuan sosial berupa beras maupun uang, meskipun pernah mengajukan diri dan menjalani survei.

Saat ini, keluarga tersebut tercatat memperoleh BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI). Namun, kebutuhan mereka tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan. Ada kebutuhan pangan, biaya tempat tinggal, pemulihan kondisi ibu, serta keberlangsungan pendidikan anak-anak yang juga perlu mendapat perhatian.

Halaman:

Tags

Terkini