daerah

Air Berbusa Surabaya Buka Krisis Tata Kelola Air: Bukan Sekadar Minta Maaf, Siapa Tanggung Jawab Kerugian Pelanggan?

Senin, 7 September 2026 | 13:42 WIB
Sumber foto : IG Istimewa

 

SURABAYA, NAWACITAPOST.COM — Air Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya yang keruh, berbusa dan berbau menyengat di sejumlah wilayah pada Minggu (6/9/2026), tidak seharusnya berhenti pada permintaan maaf dan pembagian air tangki kepada pelanggan.

Persoalan tersebut justru membuka pertanyaan yang jauh lebih besar: seberapa kuat sistem pengamanan air baku Surabaya, siapa yang harus bertanggung jawab ketika sumber air tercemar, dan bagaimana nasib pelanggan yang tetap membayar tagihan ketika air yang diterima tidak dapat digunakan secara normal?

Pada Minggu pagi, keluhan air keruh, berbusa dan berbau muncul dari sejumlah kawasan, antara lain Kedurus, Petemon, Gunung Sari, Babatan Wiyung dan Simo. Perumda Surya Sembada kemudian melakukan pengecekan dan penanganan terhadap gangguan tersebut.

Perumda menjelaskan gangguan berkaitan dengan menurunnya kualitas air baku yang masuk ke IPAM Karang Pilang. Manajemen menyebut kualitas air baku yang diterima mengalami penurunan sangat signifikan akibat tingginya polutan, sementara volume air juga menurun.

Yang lebih serius, Perum Jasa Tirta I (PJT I) menyebut dugaan awal munculnya busa di Kali Surabaya berkaitan dengan foam pemadam kebakaran yang digunakan dalam penanganan kebakaran di kawasan industri Driyorejo pada Jumat (4/9/2026). Bahan tersebut diduga masuk ke Kali Tengah yang kemudian bermuara ke Kali Surabaya.

Namun, kata “diduga” harus tetap menjadi kata kunci. Keterkaitan antara foam pemadam, pencemaran Kali Tengah dan gangguan air baku Surabaya harus dibuktikan melalui pengambilan sampel dan pengujian laboratorium. PJT I sendiri telah melakukan pengambilan sampel di sejumlah titik untuk memantau perkembangan kualitas air.

Jangan berhenti pada sumber busa, telusuri sampai sumber pencemarnya

Jika dugaan pencemaran dari kawasan Driyorejo nantinya terbukti, persoalannya tidak boleh selesai hanya dengan membersihkan sungai.

Pihak yang menyebabkan pencemaran harus diusut secara tuntas sesuai ketentuan hukum.

Sebab, Kali Surabaya bukan sekadar sungai biasa. Sungai ini merupakan sumber vital air baku bagi Surabaya. Sekitar 93 persen pasokan air baku Perumda Surya Sembada disebut bergantung pada Kali Surabaya, yang melayani lebih dari 650 ribu sambungan pelanggan.

Ketergantungan sebesar itu membuat pencemaran di satu titik berpotensi berubah menjadi risiko sistemik bagi seluruh kota.

Artinya, Surabaya tidak boleh hanya memiliki strategi pengolahan air ketika pencemaran sudah masuk instalasi. Kota ini membutuhkan strategi urban water resilience atau ketahanan air perkotaan: bagaimana air baku diamankan sejak dari hulu, bagaimana pencemar dideteksi lebih dini, bagaimana sumber alternatif disiapkan, dan bagaimana masyarakat tetap mendapat pelayanan ketika salah satu sumber utama mengalami gangguan.

Penambahan chlorine memang langkah teknis, tetapi bukan solusi hulu

Dalam situasi kualitas air baku memburuk, langkah Perumda Surya Sembada melakukan penyesuaian proses pengolahan, termasuk penggunaan disinfektan, merupakan bagian dari respons teknis pengolahan air.

Bau seperti kaporit yang kemudian dirasakan masyarakat juga tidak otomatis berarti air tersebut berbahaya. Chlorine memang digunakan dalam proses disinfeksi dan pengolahan air.

Namun, perlu diluruskan bahwa belum ada dasar untuk menyimpulkan secara pasti bahwa BOD/COD pada kejadian 6 September meningkat atau DO turun drastis tanpa hasil uji laboratorium.

Halaman:

Tags

Terkini