daerah

Aspirasi TIBA, DPRD Akui Kekurangan: Penerjemah Bahasa Isyarat Jadi PR Serius

Minggu, 26 April 2026 | 18:04 WIB
Wakil ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni menerima aspirasi dari Tim Bisindo dan Aksesibilitas (TIBA), Jumat (24/4/2026)

NAWACITAPOST.COM — Persoalan klasik kembali mencuat. Layanan kesehatan di Surabaya dinilai belum ramah bagi penyandang disabilitas, khususnya tunarungu dan tuna wicara. Minimnya penerjemah bahasa isyarat jadi hambatan serius yang hingga kini belum terselesaikan.

Fakta itu diungkap langsung komunitas Tim Bisindo dan Aksesibilitas (TIBA) saat audiensi dengan Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, Jumat (24/04/2026). Mereka menyoroti buruknya akses komunikasi di fasilitas kesehatan, terutama rumah sakit.

“Minimnya penerjemah bahasa isyarat membuat kami kesulitan memahami informasi medis. Ini bukan hal sepele, tapi menyangkut keselamatan pasien,” ungkap perwakilan TIBA dalam forum tersebut.

Kondisi ini membuat komunikasi antara pasien disabilitas dan tenaga medis kerap tersendat. Dampaknya, informasi penting terkait diagnosis hingga tindakan medis tidak tersampaikan secara utuh.

Menanggapi hal itu, Arif Fathoni tak menampik adanya persoalan serius dalam layanan publik di sektor kesehatan.

“Layanan pemerintah, termasuk kesehatan, harus universal dan tidak boleh diskriminatif. Semua warga punya hak yang sama,” tegasnya.

Ia mengakui, keberadaan penerjemah bahasa isyarat bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak.

“Ini catatan serius. Dukungan komunikasi seperti penerjemah sangat penting agar tidak ada hambatan pelayanan,” ujarnya.

Tak hanya itu, DPRD juga didesak untuk memastikan seluruh fasilitas publik benar-benar inklusif, bukan sekadar slogan.

“Kita ingin layanan publik benar-benar bisa diakses semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas,” tambahnya.

Selain sektor kesehatan, TIBA juga menyoroti minimnya akses kerja bagi penyandang disabilitas. Mereka menilai, kesetaraan masih jauh dari kata nyata.

Audiensi ini pun menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kota Surabaya. DPRD diharapkan tidak berhenti pada catatan, tetapi segera mendorong langkah konkret.

“Khususnya memastikan akses komunikasi di fasilitas kesehatan benar-benar tersedia,” pungkas Fathoni. ***

Tags

Terkini