daerah

Semarak Budaya Tambak Lumpang, Reni Astuti: Filosofi Layang-Layang dan Bubur Madura Ajarkan Keseimbangan Hidup

Minggu, 21 September 2025 | 13:02 WIB
Reni astuti, anggota Komisi X DPR RI dari fraksi PKS bersama Lurah dan LPMK Sukomanunggal saat festival layang-layang dan kampung bubur madura, Minggu 21/9/2025, di lapangan Tambak Lumpang (Nawi)

“Di RW 1 setiap minggu ada pelatihan Reog, Jaranan, dan gamelan. Ini terbuka bagi warga Tambak Lumpang maupun sekitarnya. Jadi, budaya di sini hidup, tidak sekadar dipamerkan,” jelasnya.

Ke depan, Bambang juga berencana mengembangkan kawasan ini sebagai pusat olahraga dan ketahanan pangan.

“Selain festival layang-layang, di sini juga ada lahan tambak, pohon pisang, dan pertanian kecil-kecilan. Harapannya bisa menopang ketahanan pangan warga,” ujarnya.

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hadirnya Reni Astuti, Anggota Komisi X DPR RI. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi antusiasme warga, khususnya anak-anak yang larut dalam permainan dan seni.

“Saya lihat tadi anak-anak gembira, berlari, main layang-layang, menikmati pertunjukan. Tidak ada yang pegang HP. Itu luar biasa, karena ketika anak-anak bahagia, orang tua pun ikut bahagia,” ucap Reni.

Reni kemudian menarik pelajaran dari filosofi layang-layang. “Main layang-layang itu butuh kerja keras dan keseimbangan. Begitu juga hidup. Kita harus seimbang antara fisik, pikiran, dan hati. Harus berani menghadapi tantangan, seperti angin bagi layang-layang,” katanya.

Ia bahkan mengenang masa kecilnya di Pasuruan, saat ayahnya mengajarinya membuat layang-layang.

“Ayah saya sekarang sudah berusia 82 tahun. Dulu beliau yang mengajarkan saya membuat layang-layang. Hari ini saya teringat kembali masa itu, melihat langit Sukomanunggal penuh warna,” kenangnya.

Reni juga memberi apresiasi khusus kepada para pelaku UMKM bubur Madura. “Bubur Madura ini bukan sekadar kuliner, tapi karya budaya. Prosesnya rumit, butuh kesabaran, tapi hasilnya luar biasa. Kita harus menghargai kerja keras ibu-ibu yang menjaga tradisi ini,” tandasnya.

Selain kuliner dan lomba layang-layang, acara ini juga menghadirkan diskusi budaya bersama Rizky, atlet pelayang internasional, yang berbagi pengalaman tentang dunia layang-layang modern.

Di sisi lain, pelaku usaha lintas generasi, Ibu Nuraini, mengupas filosofi bubur Madura sebagai simbol kebersamaan keluarga.

Panggung seni semakin semarak dengan penampilan Reog Ponorogo, Jathilan, hingga kidungan Jula Juli. Semua tampil memikat, menegaskan betapa kaya ragam budaya yang dimiliki Surabaya.

Puncak acara adalah Festival Layang-Layang. Ratusan layangan beraneka bentuk menghiasi langit Surabaya, termasuk layangan bergambar Reni Astuti, Wali Kota Eri Cahyadi, dan Lurah Sukomanunggal.

Yang paling menarik perhatian adalah layang-layang naga sepanjang 80 meter yang diterbangkan anak-anak bersama-sama.

Halaman:

Tags

Terkini