berita-peristiwa

Warga NU: Pelantikan PCNU Kota Surabaya Tidak Sesuai Moralitas dan Kesantunan

Senin, 24 April 2023 | 12:33 WIB
Dr. H. Muhammad Yazid, M.Si, salah satu pimpinan PCNU kota Surabaya

Surabaya NAWACITAPOST - Pelantikan dan pengukuhan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya oleh Rais Aam KH Miftachul Ahyar, oleh beberapa pihak dianggap tidak Lazim dan bernuansa ‘Syubhat’.

Karena selain tidak didahului komunikasi dengan para MWC yang punya hak pilih, pelantikan ini seolah terburu-buru, padahal sempat 3 kali dibentuk Karteker namun kandas dan tidak ditindak lanjuti dengan konferensi.

Pelantikan tersebut bahkan menyulut saling bantah di media antara Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdussalam Shohib Bisri yang biasa disapa Gus Salam dengan Sekretaris PCNU Kota Surabaya terpilih, Masduki Toha.

"Suatu mekanisme yang semestinya dan seharusnya dilakukan sebagai organisasi yang sehat untuk memastikan sah-tidaknya kepengurusan (definitif)," ungkap Gus Salam dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/4/2023).

Sementara Masduki Toha menyatakan Gus Salam harusnya bertanya dan Tabayun dulu. Tidak asal protes, sehingga timbul pertanyaan dan dugaan ada agenda lain, ucap Masduki, di kutip dari salah satu media, Minggu (23/04/2023).



Dihubungi Diagramkota.com dihari yang sama, salah satu pimpinan PCNU kota Surabaya, Dr. H. Muhammad Yazid, M.Si mengaku juga merasakan ketidak laziman yang sama.

"Mohon dicatat, saya menyampaikan ini dalam kondisi yang sangat-sangat tenang, dalam waktu yang bersamaan, saya sedang silaturahmi bersama keluarga. Jadi saya meresponnya tidak dengan tendensius, berusaha untuk murni dari pandangan kami sebagai warga nahdliyin termasuk juga sekaligus orang yang pernah dan sampai hari ini juga diberi amanah di-NU," tutur Kyai Yazid mengawali pembicaraan.

Berkaitan dengan perkembangan dua hari terakhir setelah terjadinya pelantikan di pengurus PCNU baru, dari kacamata Kyai Yazid, ini merupakan kejadian yang pertama dan perlu diberikan catatan.

Yang pertama adalah dari sisi moralitas. Para Muassis Nahdlatul Ulama, ketika mendirikan organisasi keagamaan ini, selalu didasari oleh suatu niatan yang betul-betul hikmah dan itu ada di Qonun Asasi-nya nahdlatul ulama.

"Jauh dari kepentingan dan orientasi kekuasaan apalagi politik, jadi murni ini adalah pengkhidmatan untuk umat," ungkapnya.



"Nah, berangkat dari sini, merespon dari apa yang sudah bergulir terjadi di-pelantikan kemarin hari Jumat (21/4) dan juga respon dari sekretaris terpilih saudara sahabat kami, Haji Masduki Toha, yang perlu saya berikan respon adalah bahwa pelantikan tersebut tidak mengedepankan moralitas dan kesantunan, karena saya berangkatnya dari asas Qonun Asasi dari Nahdlatul Ulama.

Moralitas yang bagaimana? Timing (pengaturan waktu, red) yang kurang pas ini yang membuat orang bertanya-tanya.

"Bayangkan, pelantikan dilaksanakan di-hari terakhir romadhon yakni 30 romadhon atau tepatnya 21 April 2023, rasanya hati ini melihat fenomena dan peristiwa itu nampaknya sangat-sangat kurang etis. Sehingga di warga NU muncul pertanyaan ada apa ini?" Ucap Kyai Yazid.

"Apa yang mendasari, maka itulah yang saya sebut timing-nya yang tidak mengedepankan kesantunan, kearifan lokal dan moralitas," sebutnya.

Kemudian, respon yang ke-2 bahwa karteker yang dikomandani oleh H. Umarsyah, hingga sesaat sebelum pelantikan tidak memberi informasi apapun.



"Kami hanya menerima informasi yang kami terima dari temen-temen yang dari teman-teman MWC yang secara legal formal masih punya legal standing, mereka hanya diajak oleh beliau (H. Umarsyah, red) untuk menata dan mengelola dengan baik PCNU dan NU Surabaya ke depan," ungkapnya.

"Tidak ada sama sekali informasi, pelantikan yang kemarin yang kesannya ujug-ujug itu. Bahkan yang ditangkap oleh temen-temen adalah bahwa nanti pak umarsyah atau karteker ini adalah menjalankan amanah sampai tuntas terlaksananya konferensi. Konferensi adalah bentuk wilayah demokratis yang sangat-sangat luas yang dijunjung tinggi oleh warga oleh warga nahdlatul ulama," terang Kyai Yazid.

"Sampai detik itu, Karteker belum bisa mewujudkan apa yang disampaikan sejak awal, bahwa nanti akan menata. Dan menata organisasi itu ya seharusnya lewat konferensi," sebutnya.

Yang disayangkan, ketika itu (konferensi, red) belum terlaksana, ujug-ujug langsung ada proses pelantikan yang dalam tanda kutip seakan-akan tergesa-gesa tanpa ada informasi dan tidak melibatkan MWC sama sekali.

"Apa pertimbangan beliau-beliau, kami tidak tahu persisnya. Teman-teman MWC, tahu-nya akan ada konferensi," ucap Kyai Yazid.



Beliau-pun mengingatkan, pengurus yang dulu dikomandani oleh Kyai Muhibin sebagai ketua Tanfidziah dan Rais Syuriyah oleh Kyai Sulaiman Nur, itu sudah di-karteker 2-3 kali, dan cak Kyai Muhibin dan Kyai Sulaiman Nur selalu diberikan amanah kepercayaan kembali oleh warga NU Surabaya.

Sampai kemudian karteker waktu itu di-kepengurusan Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A., dengan ketua karteker KH. Robikin Emhas, sudah definitif dan terpilih Kyai Mas Sulaiman Nur sebagai Rais Syuriyah dan Kyai Muhibin Zuri sebagai ketua Tanfidziah. Tapi sampai detik akhir, tanpa diketahui apa orientasi dan tujuannya, tidak pernah ada SK.

"Padahal sudah itu adalah hasil konferensi yang sah dan sangat-sangat kredibel," tegas Kyai Yazid.

Fenomena pelantikan yang ujug-ujug ini menurut Kyai Yazid jelas menciderai banyak pihak, terutama terkait prosesnya.

"Hal ini juga menciderai pesan para muassis Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan beliau-beliau yang lain, dimana NU berdiri dan didirikan untuk membangun moralitas, mengedepankan hikmah perjuangan bukan untuk mencari kekuasaan dan politik. Itu harus jadi catatan besar!" tegas Kyai Yazid kembali.



Jadi, menurut pak Kyai, ini adalah murni pengkhidmatan untuk kemaslahatan umat. "Itu yang secara pribadi kami sangat menyayangkan dan ini bisa merusak tatanan yang sudah berlanjut dan berjalan dengan baik selama ini," ucapnya.

Terkait masa khidmat yang hanya satu tahun, menurut Tokoh NU Surabaya ini bahwa hal itu bukan ukuran mekanisme organisasi yang baik.

"Mau satu tahun, satu bulan, atau dua bulan, yang namanya organisasi punya mekanisme. Mekanisme itu adalah dibangun dalam pondasi moralitas yang santun dan mengedepankan adalah tata kelola organisasi Jam’iyyah yang baik dan yang tidak ada bumbu-bumbu orientasi yang lain, kecuali untuk kemaslahatan umat," katanya.

"Dan itu jelas itu dalam Qonun Asasi bahwa kita dalam membangun NU, didasari oleh sikap hikmah kebijaksanaan, bukan atas dasar kekuasaan semata," tegas Kyai Muhammad Yazid.

Lanjutnya, ini demi kemasylakatan NU ke depan. NU itu organisasi keagamanan besar yang didirikan oleh para tokoh, para orang hebat, para aulia para orang alim, dan tidak boleh diciderai oleh orang-orang yang kemudian berorientasi tidak mengedepankan moralitas dan kesantunan.



Apakah berhubungan dengan agenda politik ?

Kyai Muhammad Yazid tidak menampik jika banyak warga NU menghubungkannya dengan tahun-tahun politik. "Saya pribadi, sebagai orang yang lahir dari keluarga NU, orang yang pernah lama dan sampai saat ini juga membesarkan NU, bahkan dari keluarga kami juga semuanya adalah keluarga besar NU, tidak mau berfikir terlalu jauh," ucapnya.

Tapi bagi Kyai Yazid, jika organisasi sebesar Nahdlatul Ulama murni tujuannya untuk menata mengelola dengan baik NU khususnya PCNU Surabaya, seharusnya tidak dengan cara seperti ini. "Kenapa kita kita duduk bersama dulu mencari solusi, saling sharing, panggil para pengurus MWC yang punya mandat, ini-kan kesannya-kan malah menelikung. Sudah nggak pernah ada informasi, nggak ada pelibatan ujug-ujug langsung pelantikan definitif. Apalagi maaf, yang menjadi ketua PCNU ini adalah bukan orang Surabaya?" sebut Kyai Yazid.

"Saya nggak tahu, mungkin boleh boleh saja. Tapi secara kearifan lokal seharusnya-kan kalau kita tidak pingin ada kesan politis, tanpa saya menjawab pun sebenarnya mereka sendiri yang membuka ruang untuk itu," duga pak Kyai.

"Andaikan semua warga NU khususnya MWC dilibatkan dan tokoh-tokoh dilibatkan, diajak rembuk, silaturahmi yang baik, saya kira tidak akan muncul kesan-kesan yang seperti itu. Jadi ini jelas, kalau menurut saya secara molaritas sangat-sangat tidak baik untuk NU ke depan. Dari sisi pengembangan organisasi juga banyak hal yang dilanggar, bahkan moralitas Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah juga terciderai," terang kyai Yazid.



"Pada initinya menurut saya, Akhlakul Karimah, penegakan aturan organisasi yang baik, kemudian kultur akidah ahlussunnah wal jamaah, tiga hal tersebut tidak tercermin dengan baik dalam proses pelantikan tersebut," tegas Kyai Yazid.

Terkait Tabayyun seperti yang diminta Sekretaris PCNU Kota Surabaya terpilih, Masduki Toha, Kyai Yazid malah balik bertanya siapa yang seharusnya Tabayyun?

"Pertanyaannya saya balik, yang tabayyun itu siapa, wong mereka langsung ujug-ujug pelantikan. Seharusnya-kan karena kalau tahu bahwa PCNU selama hampir setengah tahun sejak sejak desember kemarin dibawah kendali karteker, seharusnya massa itu dipakai untuk memperbaiki, menata, mengelola dengan baik sebagaimana tujuan dan tugas yang diembankan kepada karteker," sebut Kyai Yazid.

"Tabayyun itu sebenarnya bukan kami yang ke beliau-beliau, tapi seharusnya sebelum pelantikan, beliau-beliau ini mengumpulkan para MWC, dan para tokoh untuk diajak rembung, supaya peristiwa seperti kemarin tidak terjadi," tegasnya.

"Karena sudah ada peristiwa begitu, seharusnya beliau-beliau yang memberikan penjelasan, klarifikasi dan sebagainya," ungkap Kyai Yazid.



"Sebagai warga nahdlatul ulama, kami sangat-sangat menjunjung tinggi ketaatan, totalitas kepada para Kyai para Ustad para orang alim, tapi jangan diciderai moralitas karena kami juga punya tatanan. Jadi jangan sampai kita dianggap sebagai orang awam yang tidak tahu apa-apa. Kami sangat tahu!" tegasnya Kembali.

"Jadi karena kami cinta NU dan cinta PCNU Kota Surabaya, makanya kami tidak tinggal diam. Walaupun kami di-luar ring, tapi kami adalah tetap orang-orang yang sangat cinta pada NU, khususnya PCNU Kota Surabaya," ucap Kyai Yazid mengakhiri. (BNW

Tags

Terkini