Pada 16 November 2024, siswa SMP di Mojokerto diajak menonton film edukasi tentang pelestarian cagar budaya.
Ditemui usai pembukaan Seminar Nasional dan Pameran Wilwatikta Acarita, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Endah Budi Heryani, S.S., M.M., Endah Budi Heryani menegaskan pentingnya melestarikan warisan budaya Majapahit.
“Kami terus memperkuat narasi tentang Majapahit sebagai kerajaan besar di Jawa Timur yang berdiri pada abad ke-13 hingga ke-15. Majapahit adalah ikon sejarah Indonesia, dan inilah yang kami angkat melalui berbagai program dalam acara Wilwatikta Acarita,” ungkapnya.
Endah juga menjelaskan bahwa nama Wilwatikta sendiri memiliki makna filosofis yang mendalam. “Wilwa berarti pohon maja, sedangkan tikta berarti pahit. Nama ini mengingatkan kita akan asal-usul nama Majapahit dan kekuatan budayanya yang masih terasa hingga kini. Lewat pameran, kami mengangkat tema lintas budaya untuk menunjukkan bagaimana pengaruh Majapahit melampaui zamannya.”
Menanggapi konsep pameran, Endah menjelaskan, “Pameran ini melibatkan 14 peserta dari berbagai wilayah, termasuk Surakarta, Jawa Timur, hingga komunitas lokal seperti toko buku. Kami ingin publik melihat Majapahit tidak hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai inspirasi masa depan.”
“Kami merasa penting untuk menggandeng kampus seperti Universitas Airlangga, khususnya Fakultas Ilmu Budaya, karena mereka memiliki kapasitas dan sumber daya untuk menyebarkan pengetahuan kepada generasi muda. Hal ini dilakukan agar sejarah Majapahit tetap relevan di tengah masyarakat modern," imbuhnya.
Di waktu yang sama, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Purnawan Basundoro, S.S., M.Hum menyatakan bahwa, kolaborasi ini sejalan dengan visi FIB Universitas Airlangga dalam melestarikan dan mengkaji kebudayaan Nusantara secara ilmiah.
“Kami di UNAIR, khususnya di program studi sejarah, memiliki banyak ahli yang kompeten dalam menjelaskan aspek-aspek sejarah Majapahit. Hal ini menjadi kekuatan kami untuk mentransfer pengetahuan kepada mahasiswa,” ujar Purnawan.
Ia juga menyoroti pentingnya mendekatkan generasi muda dengan sejarah. “Sering kali, sejarah hanya dipahami melalui common sense atau bahkan mitos. Lewat acara seperti ini, kami ingin memberikan penjelasan yang ilmiah dan rasional agar mahasiswa mampu memahami sejarah dari sudut pandang yang lebih akademis,” katanya.
Untuk mendorong keterlibatan mahasiswa, Purnawan menjelaskan bahwa partisipasi dalam pameran dan seminar diwajibkan bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah sejarah klasik. “Mereka diberi kebebasan untuk berdiskusi langsung dengan peserta pameran dan mendalami materi yang dipamerkan. Ini menjadi pengalaman belajar yang tidak hanya teoritis tetapi juga praktis,” jelasnya.
Selain itu, Prof. Purnawan juga mengapresiasi tema lintas budaya yang diusung dalam pameran ini. “Melalui pameran ini, kami berharap mahasiswa dan masyarakat umum dapat memahami bagaimana pengaruh Majapahit masih terasa hingga kini, baik dalam seni, politik, maupun budaya. Ini penting sebagai refleksi untuk memperkuat identitas kita sebagai bangsa.”
Dekan FIB Unair menutup pernyataannya dengan harapan bahwa acara ini dapat membuka mata generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan budaya bangsa. “Majapahit bukan hanya cerita masa lalu, tetapi inspirasi untuk masa depan. Dengan memahami sejarah, kita bisa melangkah lebih bijak dalam membangun bangsa,” pungkasnya. ***