Disisi yang sama, Drg. Wahyuni Dyah Parmasari Sp.Ort., ketua panitia pelaksana Pengmas, menyampaikan bahwa kegiatan ini berfokus pada edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya gizi yang seimbang untuk mencegah maloklusi pada anak-anak prasekolah.
"Gizi yang cukup dan seimbang tidak hanya mempengaruhi kesehatan tubuh, tetapi juga perkembangan rahang dan gigi anak. Ketidakseimbangan gizi dapat menyebabkan masalah seperti maloklusi, yang berdampak pada fungsi pengunyahan dan estetika wajah anak," ungkapnya.
Dijelaskan, maloklusi adalah suatu kondisi saat susunan tulang rahang dan gigi tidak sejajar atau rata. Kondisi ini menyebabkan gigi berantakan, entah itu jadi tumpang tindih, bengkok, gigi tonggos (overbite), atau masalah lainnya.
"Dengan adanya kegiatan ini, kami berharap dapat memberikan pengetahuan dan wawasan baru kepada masyarakat tentang pentingnya gizi dalam mencegah maloklusi dan meningkatkan kesehatan secara umum," tambah Drg. Parmasari.
Baca Juga: FK UWKS Resmikan 3 Fasilitas Ruangan Baru: Ada Studio Musik!
Pada kesempatan itu, kepala Puskesmas kecamatan Gunung anyar, dr. Lukas Wisnuaji mengapresiasi kegiatan Dosen dan mahasiswa UWKS di wilayahnya.
"Selain sebagai persyaratan akademis, kegiatan ini juga sangat bermanfaat bagi masyarakat," sebut dr. Lukas.
"Bisa dilihat dari antusias dan ingin tahu nya para peserta dengan menyampaikan banyak pertanyaan mengenai topik yang dibicarakan," terangnya.
Baca Juga: Siswa-Siswi SMA Ta'miriyah Surabaya, 'Sehari menjadi Mahasiswa Fakultas Kedokteran UWKS'
Ia pun menjelaskan bahwa, puskesmas Gunung anyar masih punya PR untuk menyelesaikan kasus stunting yang masih ada di wilayah paling timur Surabaya ini. ***