berita-peristiwa

Dampak Pencemaran Lingkungan oleh Sampah APK Terhadap Penerapan SDGs Nomor 15: Menjaga Ekosistem Darat Mencegah Bencana Akibat Ulah Manusia

Kamis, 4 April 2024 | 17:24 WIB
Ilustrasi sampah APK (Istimewa)

Paparan logam arsenik, merkuri, dan zat beracun yang terdapat di tanah dalam waktu jangka panjang dan dapat beresiko mengidap penyakit kanker misalnya kanker kulit, kanker payudara, kanker usus hingga kanker pankreas.
Dampak Negatif Pencemaran Lingkungan Akibat Sampah APK

Pada pemilihan umum tahun 2024 masa kampanye masih menggunakan spanduk yang terbuat dari bahan PVC atau Polivinil Klorida. Plastik seperti PVC, agar tidak bersifat kaku dan rapuh ditambahkan dengan suatu bahan pelembut yakni bifenil poliklorin (PBC). Bahan-bahan pelembut tersebut berisiko menimbulkan efek buruk untuk kesehatan karena dapat menimbulkan kematian jaringan dan kanker pada manusia. Selain itu, PVC bersifat kuat dan tidak mudah terurai, banyak masyarakat mengambil langkah cepat dengan membakarnya. Padahal, membakar PVC ini sangat berbahaya karena mengeluarkan asap toksik yang apabila dihirup dapat menyebabkan ISPA karena gas karbondioksida yang dihasilkan.

Dampak kesehatan lain yang ditimbulkan yakni banyak serangga yang berkembang biak di tempat yang kumuh seperti tempat pembuangan sampah apalagi sudah memasuki musim hujan. Penumpukan sampah dari alat peraga kampanye memperbesar peluang masyarakat untuk terjangkit penyakit.

Salah satu contoh penyakitnya adalah demam berdarah dengue. Nyamuk Aedes Aegypti akan berkembang biak ketika kondisi sanitasi lingkungan kurang baik.

Selain dampak kesehatan ada kerugian lainnya yang dapat ditimbulkan dari penumpukan sampah alat peraga kampanye yakni meningkatkan potensi banjir. Ketika banjir sudah terjadi, ada hal-hal buruk yang timbul seperti kerugian harta benda bahkan sampai bisa menghilangkan nyawa manusia. Selain itu Sampah APK dapat menyebabkan menurunnya kualitas tanah karena memerlukan waktu yang lama untuk proses pemulihannya.
Upaya Penanggulangan Pencemaran Lingkungan

1. Peran masyarakat

Peran serta atau partisipasi masyarakat sangat penting keberadaannya. Dalam hal ini, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan kepada masyarakat yang bertujuan untuk dapat membantu program pengelolaan sampah APK adalah dengan mengganti pola pemikiran tentang bagaimana seharusnya kampanye mereka dilakukan, seperti dengan membawa kembali alat-alat peraga kampanye mereka, atau adanya panitia yang bertugas dalam pengumpulan sampah setelah selesai melakukannya kampanye.

2. Inovasi Teknologi Pengelolaan Sampah

a. waste to energy

Waste to energy atau yang biasa kita sebut sebagai pemanfaatan limbah menjadi energi dapat menjadi solusi efektif untuk menanggulangi masalah pengelolaan sampah atau limbah. Di Indonesia waste to energy juga menjadi konsen utama pada beberapa tahun terakhir, terbukti dengan rencana pemerintah membangun PLTSa program percepatan di 12 kota yang ada Indonesia. Dari paparan tersebut penting sekiranya dilakukan analisis mengenai peluang, tantangan dan optimalisasi waste to energy di Indonesia. (Agus Eko Setyono, dkk. 2021)

b. Mall sampah

Mallsampah merupakan layanan pengelola sampah online untuk rumah tangga dan kantor. Mallsampah menghubungkan pengguna dengan pengepul, pemulung dan unit-unit pengelola sampah terdekat agar lebih mudah menjual dan mendaur ulang sampah (Sakti dkk, 2021).

c. TOSS untuk kategori Sampah organik dan Non Organik dengan metode “Peyeumisasi” (Fregmenting).

TOSS atau Tempat Olah Sampah Setempat yang dimanfaatkan sebagai suatu tahapan pada metode Listrik Kerakyatan yang nantinya akan dijadikan sumber energi melalui proses peyeumisasi. metode “peyeumisasi” adalah metode dengan proses alami yang menggunakan keramba bambu yang mampu mengkonversi sampah organik dan non-organik menjadi bahan bakar padat.
Dengan proses ini seluruh sampah dapat digunakan untuk bahan bakar padat. bahan non-organik yang dikemas di dalam briket (briquette) akan menjadi bahan abu yang kemudian bermanfaat untuk material bahan bangunan. selain itu bahan plastik, karet, tekstil, dan lain-lain diolah menjadi “dodol plastik”.

Jadi, keberadaan iklan politik Pemilu serentak 2024 seharusnya bisa menjadi bagian dekorasi kota yang indah. Namun sayangnya, potensi artistik yang seharusnya muncul dari tata visual iklan politik yang dilakukan baik oleh oleh calon pemerintah maupun partai politik malah dijadikan pertarungan atau perang diksi janji-janji manis hingga aksi menjual diri demi suara masyarakat. Hal tersebut juga menciptakan sampah akibat kampanye.

Halaman:

Tags

Terkini