Senam kaki diabetes menjadi bagian menarik dalam kegiatan ini. Gerakan-gerakan sederhana yang diajarkan bertujuan meningkatkan sirkulasi darah di ekstremitas bawah dan mencegah nyeri neuropati diabetik serta luka diabetik, yang sering kali menjadi awal amputasi.
Baca Juga: Cegah Komplikasi Sejak Dini, FK UWKS Edukasi Warga Sukorejo Soal Diabetes dan Hipertensi
Dari 13 peserta Program Prolanis yang ikut serta, rerata usia adalah 58 tahun, dan 69,2% di antaranya adalah perempuan. Lebih dari 60% mengalami obesitas, dengan kadar gula darah puasa rata-rata mencapai 188 mg/dl. Selain itu, tekanan darah sistolik mereka pun berada di batas hipertensi.
Evaluasi menggunakan pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan. Skor pre-test rata-rata di bawah 40%, sedangkan post-test mendekati 50%. Uji statistik menunjukkan nilai p < 0,001, membuktikan efektivitas pendekatan edukatif dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman peserta.
Namun, tidak semuanya berjalan tanpa tantangan. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain:
- Kesulitan peserta dalam mengisi kuesioner akibat rendahnya literasi
- Keterbatasan waktu pelaksanaan
- Kelelahan fisik peserta lanjut usia saat mengikuti seluruh sesi
Baca Juga: Bahaya Osteoporosis, Pengmas FK-UWKS Gelar Pemeriksaan Massa Tulang di Sukorejo Gresik
Kendati demikian, antusiasme peserta dan dukungan dari Puskesmas serta kelurahan setempat menjadi faktor penting keberhasilan kegiatan.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Kepala Puskesmas Dukuh Kupang, Dr. Khusnul Khowatin yang menyampaikan komitmennya untuk menjadikan edukasi seperti ini sebagai bagian rutin dari layanan promotif. Pihak kelurahan juga turut mendukung dengan memberikan fasilitas dan perizinan.
“Edukasi berbasis komunitas seperti ini terbukti meningkatkan kesadaran pasien. Harapannya, program ini bisa diperluas dan dijadikan model untuk wilayah lain,” tutur Dr. Khusnul Khowatin dalam keterangannya.
Baca Juga: Pengabdian kepada Masyarakat: FK UWKS Turun ke Desa Sukorejo, Sosialisasi Bahaya Stroke dan Jantung
Sebagai tindak lanjut, Dr. Made merekomendasikan agar:
1. Materi edukasi dapat didistribusikan dalam bentuk cetak dan digital ke puskesmas lain.