Baca Juga : Potensi Keberlanjutan Food Estate Humbang Hasundutan untuk Jangka Panjang
DALAM pelaksanaan dan tata kelola yang terkesan memburu waktu dan tergesa gesa utk menjadikan lahan pertanaman berbasis food estate dalam luasan maksimal terkesan melupakan sisi kwalitas dan profesionalisme dalam setiap prosesnya.
1. Persiapan infrastruktur dilakukan sejalan dengan masa periode tanam, sehingga tanaman sudah tumbuh pipanisasi masih belum siap.
2. Tidak melakukan analisa tanah secara tuntas mendalam untuk membuat kajian kondisi tanah, tingkat pH dan uji kandungan unsur hara dalam tanah sehingga memberikan perlakuan yang sama pada semua jenis tanah disuatu hamparan pada komoditas pertanian yang berbeda.
3. Memberikan tanggung jawab sepenuhnya pada petani dengan sistem pertanian hamparan tanpa mempertimbangkan pengetahuan dan kebiasaan sistem pertanian tradisional yang melekat pada petani.
4. Penangangan dan pengelolaan bibit, sistem penumpukan, perlakuan bakteri dan mikroba juga pemberian fungisida serta manajemen pengelolaan gudang tidak profesional.
5. Pekerjaan segudang yang menumpuk dengan man power sangat kecil dan sumber daya manusia yang lemah dari sisi pengetahuan, pengalaman dan etos kerja mandiri.
Semakin ditelaah dan ditelusuri banyak sekali alur kerja yang diterapkan tidak terstruktur, memaksakan keadaan bahkan tidak menghitung secara pasti tantangan perubahan cuaca dan iklim, suhu serta curah hujan.
Semestinya pemanfaatan topografi serta kemiringan lahan menjadi inovasi sistem pengairan pertanian berbasis satu hamparan luas di letakkan. Namun pertimbangan pertimbangan matang terlihat berbenturan dengan kurangnya pemahaman pengelola lapangan yang mungkin terkejut dengan suasana dan lingkungan Humbang Hasundutan.
Harapan sesungguhnya dari masyarakat Humbang,
food estate seharusnya adalah
1. Modernisasi pertanian
2. Role model dan percontohan sistem pertanian terpadu.
3. Memiliki banyak inovasi dan teknologi terbaru yang menunjang pertanian dilengkapi dengan sumber daya terampil.
4. Menjadi kebanggaan ditingkat nasional untuk ditunjukkan dan dipertontonkan di bumi Indonesia.
5. Menjadi tujuan wisata berbasis pertanian yang baru dan layak dikunjungi
Dalam kenyataannya, pemandangan dilapangan sangat berbeda bahkan sebagian besar seperti sengaja dilakukan asal asalan
1. Pembenahan bedeng tidak membentuk tumpukan tanah melengkung, sebagaimana mestinya
2. Mulsa beterbangan lepas terbuka dimana mana
3. Pengaturan jarak antar baris, jarak dalam baris, plot dan blok pertanaman tidak memiliki sistem tertentu
4. Pipa saluran air bertebaran di atas tanah yang seharusnya dimasukkan kedalam tanah.
5. Seni pengaturan tata letak pola pertanaman
tidak diterapkan.
Mega proyek food estate dengan dana APBN yang sangat besar semestinya dikelola secara profesional, terukur, modern dan dapat dipertanggungjawabkan.
Besar harapan kita, semakin kedepan pengelolaan dan keberlangsungan jangka panjang food estate semakin profesional dan terstruktur
( Herbin Lumban Gaol SP )