Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkan anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.
Hidup Sehat adalah dambaan semua orang, sebab tidak ada seorangpun yang dengan sadar, menghendaki dirinya sakit; di saat jatuh sakit, berusaha mengatasinya untuk mencari kesembuhan. Sehat itu juga sangat mahal dan amat berharga sehingga jika seseorang sakit, rela membayar berapa pun biasanya asal ia sehat, tetapi jika tidak memiliki biaya, betapa ia menderita secara fisik dan menghalangi dirinya bekerja-beraktifitas. Itulah sebabnya Prevention is Better than Cure (Mencegah lebih baik dari pada mengobati).
Sikap orang tentang Hidup Sehat, memang beragam. Ada sebagian orang yang secara tidak sengaja, tidak berpikir tentang Hidup Sehat karena tidak adanya pengetahuan tentang pentingnya Hidup Sehat. Mereka menjalani aktifitasnya sehari-hari, bagaikan air yang mengalir begitu saja tanpa kekuatiran atas penyakit yang akan terjadi. Misalnya, masih banyak anggota masyarakat yang tidak peduli tangannya bersih atau tidak untuk digunakan sebelum memegang makanan.
Akibatnya, banyak mereka yang mengalami sakit cacingan. Ketika anak-anaknya mengalami perut gembung dan membesar, kurus dan hilang nafsu makan, mengira kena guna-guna dari tetangga atau roh jahat pengaruh roh jahat yang gentayangan. Ada pula yang sadar pentingnya hidup sehat, tapi tidak begitu dihiraukan karena mengamati kenyataan, adanya orang-orang yang peduli dengan kesehatan tapi banyak yang meninggal di usia muda, sementara melihat orang-orang yang hidup di tempat kumuh, tidur di tenda di atas trotoar atau di gubuk dekat rel kereta, malah tampak segar-segar saja.
Di samping itu, ada pula orang yang sangat yakin bahwa Hidup atau Mati, semuanya ada di tangan Tuhan sehingga walau ia sadar pentingnya Hidup Sehat, namun tidak begitu dipedulikan, sekalipun di tengah Pandemi Virus Corona yang sedang melanda dunia, sebab baginya semuanya tergantung keputusan Sang Pencipta: Mati atau Hidup.
Nats Firman dalam 1 Timotius 5 : 23, memberi indikator perihal tanggung jawab manusia untuk Hidup Sehat, sebab Rasul Paulus meminta Timotius melakukan sesuatu berkenaan pencernaannya yang terganggu dan tubuhnya yang sering lemah. Tanggung jawab manusia untuk hidup sehat, dapat dirangkum dalam tiga bagian utama yaitu:
A. Ada Firman Agar Manusia Bertindak Untuk Hidup Sehat
Rasul Paulus memerintahkan Timotius untuk mengubah pola hidupnya yang sejauh diketahui oleh Rasul Paulus, Timotius hanya minum air saja, sedangkan anggur dijauhkannya, walau tidak disertai penjelasan mengapa Timotius tidak minum anggur sebelumnya. Permintaan Paulus kepada Timotius dalam konteks ini, menyangkut: Pengetahuan dan Tindakan untuk Hidup Sehat.
- Pengetahuan untuk Hidup Sehat
Melalui tulisan Rasul Paulus, ada aspek pengetahuan yang diberitahukan kepada Timotius bahwa dalam anggur, ada unsur/zat penting yang menolong agar gangguan pencernaannya diatasi dan kondisi tubuhnya yang sering lemah terpulihkan. Untuk itu, jangan hanya minum air saja, tetapi sedikit anggur, penting diminum juga.
Manusia yang diciptakan Allah sebagai Makhluk istimewa, diciptakan segambar dengan Dia, telah diberi akal-budi sehingga dengan akal-budinya, manusia mengetahui dan membedakan sesuatu, bahkan dengan akal-budinya, manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi sebagaimana kenyataan saat ini.
Banyak anggota masyarakat yang mengalami berbagai penyakit tanpa memiliki pengetahuan tentang bagaimana penyakit tersebut masuk dan membuat tubuhnya sakit; hal ini umumnya terjadi di kalangan masyarakat yang masih belum menikmati kemajuan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kesehatan.
Banyak orang yang berbuat kesalahan dan dosa, tanpa pengetahuan. Yesus berdoa agar Bapa di Sorga mengampuni orang-orang yang telah menyiksa-Nya, menyalibkan-Nya karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Yesus berkata di salib itu, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23 : 34). Demikian juga Rasul Paulus, yang sebelumnya dikenal dengan nama Saulus, telah menganiaya jemaat mula-mula dengan ganas dan setelah Yesus menyatakan Diri-Nya kepadanya, barulah ia bertobat dan mengaku: “...semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan” (1 Timotius 1 : 13). Banyak orang berbuat kesalahan karena tidak ada pengetahuan.
Sejak belajar sebagai Siswa Perawat tahun 1971 (nama sebelumnya SPKU = Sekolah Penjenang Kesehatn Umum yang ditempuh selama tiga tahun) sering ditugaskan di bagian perawatan pasien yang berpenyakit menular, namun dengan pengetahuan yang ada, tidak pernah terjangkit menular di Rumah Sakit Umum Nias Gunung Sitoli. Demikian juga ketika Wabah Penyakit Kolera melanda masyarakat di Kecamatan Teluk Dalam Nias dan Kecamatan Lahusa Nias, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, menempatkan penulis untuk membantu pelayanan di Puskemas di kedua kecamatan tersebut (sekitar tahun 1976 – 1977), menangani pasien yang sakit kolera. Puji Tuhan, pasien terlayani dengan baik dan tidak pernah terjangkit virus kolera, sebab kalau sudah paham cara penularannya, maka harus cermat melakukan tindakan pencegahannya pula. Jadi, untuk hidup sehat, dibutuhkan pengetahuan. Orang yang ingin sehat, hendaknya belajar untuk memiliki pengetahuan tentang cara hidup sehat dan cara mencegah berbagai penyakit. Inilah tanggung jawab manusia bila ingin hidup sehat, belajar untuk memiliki pengetahuan.
- Tindakan untuk Hidup Sehat
Pesan Rasul Paulus kepada Timotius, “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkan anggur sedikit,...”, merupakan tindakan yang diharapkan Timotius lakukan agar sehat kembali. Namun, ayat ini telah disalah-gunakan oleh banyak orang untuk membenarkan kebiasaan mereka mengkonsumsi minuman keras secara berlebihan hingga mabuk-mabukan dan menimbulkan masalah dan tindak kekerasan dalam masyarakat.
- Anggur yang dimaksud dalam konteks 1 Timotius 5 : 23 adalah anggur yang berkadar alkohol rendah dan sudah lazim diminum dalam kehidupan sehari-hari sebagai “minuman rakyat” sehingga dapat disuguhkan pada tamu yang datang atau digunakan pada acara pesta seperti kejadian di pesta pernikahan di Kana dimana Yesus melakukan mujizat pertama dengan mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2 : 1 – 11).
Pemahaman yang salah, menjadi latar tindakan yang salah juga sebab dengan mengkonsumsi minuman keras tanpa batas (tanpa ukuran) dengan kadar alkohol tinggi, selain menimbulkan masalah sosial di tengah-tengah masyarakat, juga membawa akibat buruk bagi kesehatan pengguna itu sendiri. Dampak negatif alkohol terhadap kesehatan jasmani dan mental sebagai berikut:
a. Pengerasan hati (penyakit lever/Sirosis hati).
b. Mengganggu fungsi Pancreas (kelenjar yang mengatur kadar gula darah; akibatnya: diabetes).
c. Merusak sum-sum tulang yang berakibat pada berkurangnya produksi butir-butir darah merah sehingga mudah mengalami infeksi.
d. Mendorong pembentukan sel kanker atau tumor. Jika ditelusuri cara hidup pengidap penyakit kanker dan tumor, sebagian besar memiliki riwayat/kebiasaan mengkonsumsi alkohol dalam waktu panjang di masa lalu).
e. Menurunkan derajat imunitas tubuh terhadap penyakit.
f. Menurunkan kepadatan tulang sehingga resiko patah tulang bila terjadi masalah, sangatlah besar.
g. Menimbulkan ketagihan dan ketergantungan (kecanduan).
h. Meningkatkan tekanan darah sehingga terjadi Hipertensi dan jika tidak diawasi, bisa secara mendadak terjadi Strouk.
i. Pecandu merasa tidak nyaman dan merasakan “rasa sedih” tanpa sebab yang lain di saat kadar alkohol dalam darah menurun sehingga ada dorongan untuk minum lagi sebagai cara menjaga kestabilan walau justru semakin membahayakan.
j. Mengalami kemerosotan fisik yang tidak sebanding dengan usianya (umur masih belum lanjut usia, tapi sudah tampak tua dan merasa tak berdaya lagi seperti yang sebaya dengan dirinya).
Satya Joewana, M.D, Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif, Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2004, hlm. 159-176.
Firman Tuhan sudah jelas melarang: “Dan janganlah mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5 : 18), namun banyak orang lebih suka menuruti nafsunya dari pada takut akan Tuhan.
Saat ini, mungkin belum terasa efek negatifnya bagi kesehatan, namun di saat kemudian akan muncul berbagai penyakit yang mematikan (kanker, tumor, masalah di jantung dan paru-paru dan di bagian vital tubuh lainnya seperti pancreas, lever, ginjal, dan gangguan di jaringan otak seperti hipetensi dan strouk. Bila terjadi hal-hal demikian, siapa yang salah?
Tindakan Hidup Sehat, tidak hanya menyangkut ukuran/takaran penggunaan yang tepat, tetapi juga tindakan preventif (pencegahan) dan tindakan kuratif (pengobatan) yang tepat. Bukan untuk maksud coba-coba (eksperimen) ketika Paulus meminta Timotius untuk minum anggur sedikit; Paulus sudah memahami adanya 4
khasiat/manfaar dari anggur pada gangguan kesehatan Timotius. Terlebih kehadiran Dokter Lukas bersamanya dalam pelayanan (Kolose 4 : 14; 2 Timotius 4 : 11); tak diragukan lagi ketepatan diagnose (penentuan penyakit) dan pengobatan yang tepat.
Antar pengetahuan dan tindakan, mesti selaras; jika tidak, maka berakibat buruk pada orang yang bersangkutan. Sering anggota masyarakat yang tidak paham gejala penyakit, bukan konsultasi ke dokter atau tenaga medis, tapi bertanya kepada dukun atau peramal untuk mencari pertolongan.
Model orang seperti ini, telah sering saya jumpai. Perut anaknya sangat buncit dan melembung ke depan; disangkanya telah diguna-gunai orang. Setelah saya periksa, ternyata perut anaknya penuh cacing-cacing, termasuk cacing gelang. Setelah minum obat cacing, cacingnya semua keluar, baru perut anaknya kempes dan kembali normal kembali.
Sikap Mental juga turut berperan membuat penyakit makin meluas. Virus Corona (Covid-19) yang ditemukan pada pada akhir Desember 2019 yang lalu, telah menelan korban jiwa di Wuhan China dan telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Kenyataannya, sikap masyarakat Italia yang agak cuek dan anggap enteng dampak Virus Corona, menjadi negara yang paling banyak korban jiwa.
WHO mencatat hingga tanggal 23 Maret 2020, jumlah korban di Wuhan/Cina berjumlah 3.153 orang; di Italia meninggal 5.476 orang, justru melebihi jumlah korban di Wuhan China.
Sebaliknya, Korea Selatan tanpa melakukan Lockdown, karena masyarakatnya sangat disiplin dan taat pada arahan pemerintahnya, maka hanya sedikit makan korban, yaitu 26 orang. Sikap memandang enteng, sikap acuh terhadap ancaman penyakit (sikap masyarakat Itali), menyebabkan Virus Corona berpeluang besar makin menyebar dan menelan banyak korban jiwa.
Atas arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan KAPOLRI Idham Aziz mengeluarkan Maklumat tertanggal 19 Maret 2020 agar untuk sementara menghindari/menunda pertemuan sosial (termasuk ibadah) yang mengundang kerumunan masa untuk mencegah penyebaran Virus Corona, ditanggapi negatif sebagian orang, termasuk yang berpredikat Pendeta; menilai orang Kristen dan hamba Tuhan yang meniadakan ibadah di gereja sebagai orang yang tidak beriman dan takut sama virus corona serta tidak beriman pada Firman Tuhan.
Sikap demikian tentu amat disayangkan karena seharusnya warga negara termasuk Hamba Tuhan, memahami situasi konteks Pandemi Virus Corona sehingga bersikap bijaksana dengan hikmat dari Tuhan, serta taat pada himbauan dan peraturan yang telah disampaikan oleh pemerintah sebagai Hamba Allah melalui maklumatnya (Roma 13 : 1 – 5).
Orang yang merasa imannya kuat, tidak patut mengabaikan hikmat dan sikap bijak dalam menyikapi situasi khusus. Manusia memiliki tanggung jawab sosial dan taat kepada pemerintah sebagai hamba Allah dan mempedulikan keselamatan orang lain karena kasih; bukan menilai dan menghakimi orang lain dengan ukuran imannya sendiri.
Firman Tuhan telah dituliskan bahwa “kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka” (Amsal 27 : 12).
Tatkala Yesus mengetahui bahwa orang-orang Nazaret 5 berencana membunuh-Nya dengan melemparkan-Nya di tebing gunung, Yesus tidak mendemonstrasikan kuasa-Nya yang dasyat di hadapan mereka; sebaliknya, Ia menghindar dan pergi meninggalkan mereka (Lukas 4 : 38 – 40); bukan karena Ia takut mati, tetapi Ia tidak rela mati sebelum waktu yang ditentukan bagi-Nya untuk mati di Salib (Matius 20 : 19).
Ada fenomena lain dalam masyarakat, khususnya kaum marginal, dimana karena faktor kesulitan ekonomi dan tanpa pengetahuan yang cukup untuk hidup sehat, mereka terpaksa mengais rezekinya dari sisa-sisa makanan dan sisa minuman di tempat-tempat yang tidak bersih, namun mereka tampaknya biasa-biasa saja dan tidak menunjukkan sebagai orang sakit.
Inilah yang tidak mudah dipahami tentang rahasia dan keadilan Allah, namun bisa sedikit dijelaskan bahwa daya imun tubuh mereka, telah terbentuk sedemikian kuat karena terpakan kehidupan yang sulit sehingga mereka beraktifitas seperti halnya orang yang tidak sakit, walau sakit-sakitan juga.
Hidup matinya manusia memang di tangan Tuhan. Ada yang diizinkan-Nya dan ada yang dikehendaki-Nya. Ini harus dibedakan agar tidak kabur pemahamannya. Tentu Anda sudah sering mendengar atau membaca dari tulisan tentang “orang yang bunuh diri” (melompat dari gedung tinggi, minum racun, tembak kepala sendiri dengan pistol, dan lain sebagainya).
Tindakan “bunuh diri” jelas tidak dikehendaki oleh Tuhan, sebab Ia sendiri berfirman: “Jangan membunuh” (Keluaran 20 : 13; Ulangan 5 : 17). Tuhan melarang “jangan membunuh”, maka tidak mungkin Ia juga menghendaki tindakan tercela “bunuh diri sendiri”, namun Tuhan dalam hikmat-Nya, dapat mengizinkan hal itu terjadi.
Dengan demikian, dapat dikatakan di sini bahwa orang yang menderita dan mati karena mengabaikan tanggung jawabnya untuk hidup sehat, bisa terjadi di luar kehendak Allah, walau Tuhan dapat mengizinkannya
Jadi, salah satu tanggung jawab manusia untuk hidup sehat adalah melakukan langkah-langkah yang benar dan tepat yang berguna bagi kesehatan dirinya dengan belajar dan menerima ilmu pengetahuan yang relevan dan disertai tindakan yang benar dan tepat serta menjauhkan sikap hati yang acuh, anggap enteng atau tidak peduli dengan cara hidup dan sikap yang tepat dalam rangka mencegah penyakit maupun tindakan yang tepat dan bijak dalam mengatasinya atau mengobatinya.
B. Berdoa Dengan Iman
Yesus telah memberi diri-Nya sebagai contoh untuk diteladani. Setiap gerakan misi pelayanan-Nya selalu dimulai dengan doa dan bahkan dengan berpuasa (Matius 4 : 1 – 11; 26 : 36 – 44; Markus 5 : 35 – 38). Yesus pun mengajar murid-murid-Nya bagaimana berdoa yang baik tanpa bertele-tele: “Bapa kami yang di sorga,...” (Matius 5 : 9 – 13). Yesus juga berpesan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7 : 7).
Meminta kepada Tuhan dalam doa, harus dengan keyakinan penuh, tanpa bimbang, sebab tanpa iman, tidak berkenan kepada Tuhan (Markus 11 : 22 – 24; Ibrani 11 : 1). Berdoa dengan iman, artinya bahwa kita percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan sesuai kehendak-Nya, sebab tidak ada yang mustahil bagi-Nya (Matius 26 : 39; Yeremia 29 : 11). 6
Untuk hidup sehat, berdoa kepada Tuhan agar diberi kesehatan dan dijauhkan dari berbagai penyakit dan pencobaan (Matius 5 : 13) dengan mengaminkan janji-janji-Nya untuk terlindungi dari berbagai penyakit, termasuk penyakit menular (Mazmur 91 : 7 – 11), sebab ”Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5 : 16). Berdoa adalah bentuk tanggung jawab manusia untuk hidup sehat, sebab dengan berdoa, manusia mengungkapkan ketergantungnnya kepada Tuhan; bahwa ia hanya mengandalkan Tuhan dan bukan mengandalkan kekuatannya sendiri (Yeremia 17 : 5 – 8).
C. Hidup Kudus Untuk Hidup Sehat
Jika seseorang mengalami sakit berat, ada kecenderungan orang bertanya: Apa ya dosanya sehingga ia jatuh sakit? Pertanyaan demikian, pernah diajukan oleh para murid kepada Yesus ketika ada seorang yang dilahirkan buta: Siapakah yang berdosa sehinggaia dilahirkan buta? Yesus menjawab: Bukan karena dosa, tetapi “karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalamnya” (Yohanes 9 : 1 – 3).
Di sisi lain, ada pula penyakit yang disebabkan oleh dosa, sebab “Ada orang-orang yang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka” (Mazmur 107 : 17). Sebagai contoh adalah Miryam saudara Musa. Miryam kena sakit kusta selama tujuh hari sehingga ia diasingkan selama tujuh hari. Miryam mengalami sakit setelah ia mengata-ngatai dan memberontak pada kepemimpinan Musa, dan setelah Musa berdoa, memohon belas-kasihan Tuhan dan Tuhan mengabulkan doa Musa sehingga Miryam sembuh dan boleh ia kembali di tengah-tengah keluarga setelah tujuh hari diasingkan. Demikian halnya ketika ada seorang yang lumpuh dan digotong empat orang. Yesus berkata kepada yang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (Markus 2 : 1 – 5). Segera setelah itu, orang lumpuh tersebut, bangun dan mengangkat tempat tidurnya sehingga orang banyak takjub melihatnya (ayat 12). Ini menunjukkan bahwa ada juga kasus penyakit yang berkorelasi dengan dosa sehingga tatkala menerima pengampunan dari Tuhan, ia sembuh. Hidup sehat, hendaklah hidup kudus dengan menjauhkan diri dari dosa, sebab dosa bisa menyebabkan penyakit bagi manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kesehatan terancam, bilamana berbuat dosa sehingga dipandang sebagai hukuman atas cara hidup yang berdosa. Orang yang tidak hidup kudus, cenderung meniru cara hidup duniawi yang pada saatnya memberi dampak bagi kesehatan jasmani, kesehatan mental, bahkan di dunia yang akan datang, sebab orang-orang yang hidup dalam keinginan daging (keinginan dosa) tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Sorga.
D. Rangkuman
Tuhan memelihara manusia ciptaan-Nya, namun manusia yang diciptakan menurut Gambar dan Rupa Allah, telah diberi akal budi untuk berupaya menjaga kehidupannya agar tetap sehat dengan menjalankan pola hidup sehat, sambil berdoa sebagai bentuk ketergantungannya kepada Tuhan, dan hidup kudus dengan menjauhkan diri dari berbagai kecemaran dunia. Mari kita menjadi pribadi yang sehat. Sehat adalah berkat. Amen!
Makalah ditulis oleh Pdt. Dr. Sochiwolo o Ndruru, M.Th,
Direktur Pascasarjana STT Jaffray Jakarta