NAWACITAPOST.COM — Genderang perang terhadap pengangguran dan stagnasi birokrasi resmi ditabuh. Tri Adhianto Wali Kota Bekasi, melakukan gebrakan tajam dengan merotasi dua pejabat teras Eselon II pada Rabu (13/05/2026). Namun, ini bukan sekadar seremoni pelantikan biasa; ini adalah ultimatum.
Dalam rotasi kali ini, Dzikron resmi menduduki kursi panas sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), sementara Nadih Arifin digeser untuk menakhodai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud).
Disnaker dalam Bidikan: "Jangan Ragu-Ragu Lagi!"
Tri Adhianto tidak memberikan ruang napas bagi Dzikron. Sorotan tajam langsung diarahkan pada kegagalan tahun lalu terkait pemberangkatan tenaga kerja ke luar negeri. Dengan nada bicara yang tegas, Tri memberikan target khusus 3 bulan (90 hari) untuk menunjukkan langkah konkret.
Baca Juga: Misi Suci dari Negeri Istana: 70 Pendekar Al-Quran Siak Siap Guncang MTQ Riau!
"Tahun lalu target pemberangkatan tenaga kerja ke luar negeri masih gagal karena arahnya masih ragu-ragu. Tahun ini harus diselesaikan sesuai RPJMD!" tegas Tri dengan nada memperingatkan.
Wali Kota menekankan bahwa Balai Latihan Kerja (BLK) tidak boleh hanya jadi pajangan. Ia menuntut hasil nyata di mana lulusan Bekasi tidak hanya "siap pakai" secara domestik, tapi mampu bertarung di pasar internasional.
Sentilan Keras untuk Pariwisata: "Jangan Orang Itu-itu Saja!"
Bukan hanya Disnaker yang kena semprot. Nadih Arifin di Disparbud juga menerima tantangan pedas. Tri mengkritik eksklusivitas pemanfaatan fasilitas seni budaya yang dianggapnya stagnan dan tidak merata.
Baca Juga: Garda Penjaga Ketertiban ‘Serbu’ Sekolah: Misi Penyelamatan Generasi Muda Siak Dimulai!
- Peringatan Keras: Ruang publik dan fasilitas budaya tidak boleh dikuasai kelompok tertentu.
- Kolaborasi Harga Mati: Pariwisata wajib "kawin paksa" dengan UMKM dan Ekonomi Kreatif; tidak boleh ada ego sektoral yang berjalan sendiri-sendiri.
Meja Panas: Kursi Pejabat Bukan "Zona Nyaman"
Pesan utama dari rotasi ini sangat jelas: Evaluasi adalah ancaman nyata. Tri Adhianto mengingatkan seluruh jajarannya bahwa jabatan adalah beban tanggung jawab, bukan tempat untuk bersantai.
"Jangan jadikan amanah ini sebagai zona nyaman," tutup Tri dengan dingin, menyisakan tekanan besar bagi kedua pejabat yang baru saja mengambil sumpah tersebut.