teknologi

Teknologi Makin Canggih, Jurnalisme Diuji! Gandeng BRIN, Reni Astuti Dorong Media Adaptif di Era AI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 14:59 WIB
Foto menggunakan kolase gambar AI

AI seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat kerja jurnalistik, bukan menggantikan proses peliputan, konfirmasi, investigasi, dan tanggung jawab manusia terhadap publikasi. Kecepatan produksi berita tidak boleh dibayar dengan menurunnya akurasi, hilangnya konteks, atau pelanggaran privasi narasumber.

Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mendekatkan hasil riset dan inovasi BRIN kepada masyarakat melalui media. Dalam sambutannya, Reni menjelaskan bahwa kolaborasi dengan BRIN diarahkan untuk memperluas kemanfaatan hasil penelitian agar tidak berhenti di lingkungan akademik atau lembaga riset.

Ia menyebut sejumlah kegiatan sebelumnya telah menjangkau pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), guru, serta kalangan pemuda. Melalui agenda bersama jurnalis, pengetahuan mengenai riset dan inovasi diharapkan dapat menjangkau khalayak yang lebih luas dengan bahasa yang mudah dipahami.

Peran peneliti menjadi penting dalam proses ini. Penjelasan ilmiah yang rumit perlu diterjemahkan menjadi informasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sementara jurnalis bertugas menguji klaim, menggali manfaat, dan menelusuri keterbatasan suatu inovasi.

Dalam kegiatan tersebut, materi juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi untuk mendukung kerja jurnalis, kreator konten, serta pelaku komunikasi digital. Kehadiran pemateri dari BRIN diharapkan memberi perspektif keilmuan mengenai perkembangan teknologi sekaligus penerapannya dalam produksi dan penyebaran informasi.

Tantangannya bukan hanya bagaimana menghasilkan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan hasil riset dapat dipahami, diuji, dan dimanfaatkan masyarakat. Tanpa komunikasi publik yang efektif, inovasi berisiko berhenti sebagai laporan penelitian yang hanya beredar di kalangan terbatas.

Pemanfaatan AI juga menuntut media memperkuat standar etik dan prosedur pemeriksaan informasi. Konten berupa foto, video, suara, maupun kutipan yang dihasilkan atau dimanipulasi dengan AI dapat menyulitkan publik membedakan fakta dan rekayasa. Karena itu, jurnalis perlu meningkatkan kemampuan memeriksa sumber, menelusuri asal-usul materi digital, serta menjelaskan penggunaan teknologi secara transparan ketika relevan bagi pembaca.

Prinsip tersebut sejalan dengan kewajiban pers untuk menjaga akurasi, keberimbangan, independensi, dan kepentingan publik. Teknologi boleh mempercepat proses kerja, tetapi tanggung jawab atas berita tetap berada pada jurnalis dan perusahaan pers.

Reni menyatakan dirinya siap terus membangun komunikasi dan menjalin hubungan dengan insan media, khususnya di Surabaya. Ia berharap kegiatan tersebut memberi manfaat dan menjadi ruang diskusi untuk memperkuat kontribusi jurnalis dalam mengawal pembangunan.

Pada akhirnya, masa depan jurnalistik tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengunggah berita atau paling canggih menggunakan AI. Ukurannya tetap sama: siapa yang mampu menyajikan fakta secara akurat, mengungkap persoalan secara mendalam, dan memastikan informasi benar-benar berguna bagi masyarakat.

Di tengah derasnya arus informasi digital, teknologi dapat menjadi akselerator. Namun, kepercayaan publik tetap dibangun melalui verifikasi, keberanian mengungkap fakta, dan integritas profesi. ***

Halaman:

Tags

Terkini