Kamis, 4 Juni 2026

Lestarikan Budaya Jawa, Paguyuban Seni Jaranan Putro Wiguno Tampil Hibur Warga

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Minggu, 13 November 2022 | 10:21 WIB

Nganjuk, NAWACITAPOST.COM - Kuda Lumping yang juga disebut jaran kepang atau biasa disebut Seni Jaranan adalah salah satu budaya tradisional Jawa yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang, sehingga masyarakat pada umumnya sering menyebut sebagai “jaran kepang.

Konon, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda, ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda.

Seperti yang ditampilkan oleh crew kesenian kuda lumping yakni Paguyuban Seni Jaranan Putro Wiguno Dusun Pancar, Desa Demangan, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, melakukan selebrasi dalam undangan hajatan pernikahan di Dusun Kwajon, Desa Sambiroto, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, pada Minggu (13/11/2022) pagi jam 08.00 WIB hingga selesai.
-


Dilansir dari Suaraburuh.com dalam kegiatan tersebut, Jaranan asal Desa Demangan tersebut dilaksanakan di tengah acara hajatan pernikahan dilaksanakan di jalan Desa Sambiroto Kecamatan Baron tepatnya di depan rumah warga Dusun Kwajon, Desa Sambiroto, Kecamatan Baron, Nganjuk.

Pemilik sekaligus pembina kesenian jaranan Putro Wiguno Suwoto diwawancarai di sela-sela acara yang berlangsung mengatakan bahwa, kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta dalam rangka hajatan pernikahan warga di Dusun Kwajon.

“Acara ini merupakan bentuk kepedulian dari para Seniman Jaranan di Kabupaten Nganjuk disamping kita menghibur warga, juga dalam rangka memeriahkan hajatan pernikahan,” kata Suwoto.

-
Suwoto Menambahkan bahwa, pada kesempatan tersebut para crew Seniman Jaranan juga menghadirkan 50 pembarong dan puluhan Ganongan untuk memberikan hiburan kepada warga masyarakat yang hadir di acara pernikahan.

"Alhamdulillah kegiatan hari ini berjalan dengan lancar, dan aman, semuanya tidak lepas dari kesadaran masyarakat atau penonton yang ikut serta mendukung dalam melestarikan budaya bangsa khususnya mencintai kesenian jaranan,” imbuhnya.

Sementara Abah Pamungkas salah satu praktisi kejawen yang peduli terhadap budaya tradisi kuda lumping atau kuda kepang atau yang biasa disebut Seni Jaranan itu menyampaikan rasa syukur, karena acara berlangsung aman, damai dan kondusif.

-
"Alhamdulillah, acara mulai awal sampai akhir kondusif, meskipun ada percikan sedikit, dan inilah yang saya harapkan, supaya warga masyarakat bisa menikmati hiburan ini," katanya.

Abah Pamungkas menambahkan bahwa, sebelum acara memang ada sedikit provokatif, tapi alhamdulillah, kami bersama tim langsung bisa menetralkan, mulai awal sampai selesainya acara dalam keadaan aman dan kondusif," Jelas Praktisi asal Dusun Kandangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk itu.

Senada dengan sesepuh warga tingkat 2 Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Nganjuk, Pusat Madiun, Kang Mas Sudipo yang juga pelestari budaya Jawa khususnya Nganjuk menyampaikan, harapannya agar pelestari budaya bangsa terkhusus seni jaranan yang ada di Nganjuk bisa guyub dan rukun.

-
"Kami berharap, semua budaya bangsa bisa dilestarikan oleh para generasi muda, khususnya kesenian tradisional Jawa yakni kuda lumping atau kuda kepang," kata Kang Mas Sudipo.

Kang Mas Sudipo menegaskan bahwa, kaum muda harus diberi wawasan, petunjuk, arahan dan bimbingan supaya mereka maksimal ketika tampil.

"Artinya mereka kita rangkul, kita berikan arahan sekaligus bimbingan bersama-sama ketika tampil supaya menciptakan keharmonisan, keguyuban dan kerukunan, karena semua yang ditampilkan adalah aset bangsa dan pelaku sekaligus penontonnya adalah saudara kita, mari kita awali dari sini, untuk melestarikan budaya yang ada," pungkas Kang Mas Sudipo yang juga mantan Camat Prambon.(Skr/Sin)

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini