NAWACITAPOST.COM — Euforia telah usai, kemeriahan telah padam, namun yang tersisa kini hanyalah nestapa bagi estetika kota. Kawasan Alaman Bolak, jantung dan kebanggaan Kota Padangsidimpuan, kini berubah drastis menjadi "lautan limbah" pasca-perhelatan akbar Pesta Tapanuli 2026 yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sibolga.
Dua hari setelah dentum musik berhenti, pemandangan memuakkan justru menjadi tontonan utama.
Dari Pusat Keramaian Menuju Pusat Kekumuhan
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Selasa siang (12/5/2026), sisa-sisa kejayaan acara yang berlangsung pada 8-10 Mei tersebut menyisakan potret yang memprihatinkan.
- Limbah Plastik & Botol: Berserakan di setiap sudut jalan dan halaman.
- Sisa Makanan: Mulai membusuk dan menimbulkan aroma tak sedap yang menusuk hidung.
- Bangkai Perlengkapan: Sisa-sisa material acara yang dibiarkan begitu saja tanpa sentuhan pembersihan.
Mirisnya, meski acara telah ditutup secara resmi pada Minggu malam, hingga Selasa siang belum ada tanda-tanda pergerakan pasukan oranye maupun armada pengangkut sampah di lokasi. Alaman Bolak yang seharusnya menjadi ruang publik yang nyaman, kini tampak seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dadakan di tengah kota.
Kekecewaan Warga: "Dimana Tanggung Jawab Institusi Negara?"
Kondisi ini menyulut emosi warga yang melintas. Wendy, salah satu warga Padangsidimpuan, melontarkan kritik pedas terhadap kelalaian pihak penyelenggara.
"Jangan sampai meninggalkan sampah berserakan begini di tempat umum yang jadi kebanggaan kota kami. Padahal acara ini dibiayai dan diselenggarakan oleh Bank Indonesia, tentunya ada anggarannya, kan," kata Wendy, salah satu Warga Padangsidimpuan.
Wendy menegaskan bahwa institusi sekelas Bank Indonesia seharusnya memberikan teladan dalam pengelolaan lingkungan, bukan justru meninggalkan beban ekologi bagi masyarakat lokal. Lonjakan pengunjung bukanlah alasan bagi panitia untuk lepas tangan dari manajemen limbah pasca-acara.
Bom Waktu Lingkungan di Jantung Kota
Publik kini mempertanyakan profesionalisme panitia penyelenggara. Jika tidak segera ditangani, tumpukan sampah ini berpotensi:
- Menjadi Sumber Penyakit: Mengundang lalat dan aroma busuk yang mengganggu kesehatan warga sekitar.
- Merusak Citra Kota: Wajah Padangsidimpuan tercoreng akibat lambatnya koordinasi antara penyelenggara dan dinas terkait.
- Preseden Buruk: Memberikan contoh negatif bagi masyarakat mengenai kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
Menanti Jawaban di Balik Tumpukan Sampah
Hingga berita ini dipublikasikan, Bank Indonesia Sibolga maupun Pemerintah Kota Padangsidimpuan masih bungkam. Belum ada pernyataan resmi terkait kapan proses sterilisasi kawasan Alaman Bolak akan dilakukan.
Baca Juga: Misi Suci dari Negeri Istana: 70 Pendekar Al-Quran Siak Siap Guncang MTQ Riau!
Warga mendesak agar BI Sibolga segera turun tangan dan tidak membiarkan kota "membayar harga" atas kemeriahan yang mereka ciptakan. Apakah komitmen lingkungan hanya sekadar slogan di atas panggung, ataukah benar-benar akan dibuktikan dengan aksi nyata? Rakyat Padangsidimpuan menunggu bukti, bukan sekadar sisa-sisa janji yang tertimbun sampah plastik.(Lesmanan.H)