ekonomi

Rupiah Loyo, Ini Sektor Paling Terdampak

Senin, 9 Oktober 2023 | 22:16 WIB

NAWACITApost.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan tren pelemahan pada hari ini, Senin (9/10/2023). Rupiah ditutup melemah 0,51 persen atau 79,50 poin ke level Rp15.692 per dolar pada akhir perdagangan.

Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat melejit 0,50 persen atau 0,53 poin ke 106,57. Tren tekanan terhadap rupiah diprediksi baru mereda pada November 2023 mendatang.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, yang perlu diantisipasi adalah data-data ekonomi AS sampai akhir Oktober 2023. "Jika ketidakpastian tersebut belum menghilang, kami melihat pasar keuangan cenderung masih akan berfluktuasi dan rupiah akan berada dalam tren pelemahan,” katanya, dikutip Senin (9/10/2023).

Josua menambahkan, pelemahan rupiah yang masih berlanjut akan berdampak negatif pada kinerja pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Misalnya, kata dia, industri farmasi atau industri petrokimia.

Kemudian, sektor-sektor yang diperkirakan terdampak yaitu, mengandalkan bahan baku impor seperti makanan dan minuman. Terutama, kata Joshua, makanan dan minuman yang banyak bahan baku impor seperti gandum, gula, dan kedelai.

"Lalu sektor farmasi, elektronik dan barang elektrikal, serta tekstil,” jelasnya.

Terkait dampaknya terhadap industri, Josua mengatakan pelemahan rupiah juga berpotensi mendorong berlanjutnya tekanan inflasi pangan, terutama jika pemerintah mendorong impor pangan strategis. Hal ini jelas akan berdampak negatif pada daya beli dan tingkat permintaan masyarakat.

"Impor minyak juga akan lebih mahal, sehingga harga bahan bakar nonsubsidi akan meningkat pula yang juga berujung pada menurunnya daya beli dan tingkat permintaan masyarakat,” kata Josua.

Di sisi lain, imbuhnya, pelaku usaha yang bergantung pada ekspor justru berpeluang mendapatkan manfaat dari pelemahan rupiah, terutama bagi ekspor barang manufaktur. Namun, menurut Josua, di tengah pelemahan ekonomi dunia, kemungkinan kinerja ekspor masih akan menghadapi tantangan yang cukup berat.

Tags

Terkini