ekonomi

Bank Sibuk CSR, Kliring Jadi Terlantar

Senin, 23 Desember 2024 | 14:33 WIB

NAWACITAPOST.COM – Lamanya proses kliring perbankan kembali menjadi sorotan masyarakat. Kali ini, tokoh publik Surabaya, A.H. Thony, secara tegas mempertanyakan kinerja Bank Indonesia (BI) dan HSBC terkait lambannya transfer antarbank yang melibatkan proses kliring. Menurutnya, sistem kliring yang dikelola oleh Bank Indonesia tidak mencerminkan profesionalisme.

“Kliring dari HSBC ke BPR Sarana Artha Utama Surabaya, yang seharusnya cepat selesai, justru menjadi sangat lambat. Ini tidak profesional,” tegas A.H. Thony pada Senin (23/12).

Ia menjelaskan permasalahan yang dialaminya. Salah seorang temannya, Taufik, meminjam dana melalui namanya. Karena bersifat mendesak, ia membantu dengan menggunakan fasilitas pinjaman dari BPR dengan jaminan aset pribadinya. Ketika waktu pelunasan tiba, ia meminta Taufik untuk langsung mentransfer dana ke rekening BPR tersebut.

Baca Juga: KPK, Hukum, CSR BI dan Komedi Korupsi di Indonesia

“Pak Taufik sudah mentransfer dana melalui kliring HSBC pada 28 November 2024 dengan status successfully transferred. Artinya, proses pengiriman dana dinyatakan berhasil. Namun hingga hari ini (hampir sebulan), dana tersebut belum masuk ke rekening tujuan,” jelas Mantan Pimpinan DPRD Surabaya ini.

A.H. Thony mengaku sangat kecewa dengan lamanya proses kliring ini. Ia menyebut, “Setahu saya, kliring dengan jumlah kecil biasanya bisa diproses dalam waktu singkat. Namun ini terlalu lambat. Layanan seperti ini jauh dari kata profesional dan merugikan.”

Tidak hanya mengkritik HSBC, ia juga menyoroti peran Bank Indonesia sebagai otoritas yang mengatur lalu lintas keuangan nasional. Menurutnya, lambatnya kliring bisa jadi disebabkan oleh kurangnya perhatian dari pihak BI.

Baca Juga: KPK Obok-Obok Kantor BI Pusat, Jawa Timur Tunggu Waktu?

“Layanan kliring ini kan berada di bawah pengawasan Bank Indonesia. Kalau seperti ini, kami masyarakat merasa BI tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Apakah mungkin mereka lebih sibuk mengurus hal-hal lain yang dianggap lebih menguntungkan secara pribadi?” katanya.

A.H. Thony juga mengaitkan isu ini dengan kasus dugaan korupsi dana CSR di Bank Indonesia yang baru-baru ini diungkap oleh KPK. Ia menduga bahwa perhatian pihak terkait lebih terfokus pada program-program seperti CSR yang rentan penyimpangan, dibandingkan menyelesaikan tugas utama seperti pengelolaan kliring.

“Dalam hati kecil, saya ingin melaporkan ini ke OJK, tetapi sayangnya kasus CSR tersebut juga melibatkan OJK. Mau mengadu ke mana lagi kalau yang mengawasi dan yang menjalankan sama-sama sibuk dengan urusan lain?” tambahnya.

Kasus ini menjadi refleksi atas tantangan dalam sistem perbankan Indonesia, khususnya terkait efisiensi dan transparansi layanan kliring antarbank. ***

Tags

Terkini