SURABAYA, NAWACITAPOST.COM – Inovasi digital kini bukan sekadar urusan teknologi. Bank Indonesia mendorong inovasi menjadi mesin produktivitas, pencipta nilai tambah, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi baru agar Indonesia mampu naik kelas dan keluar dari jebakan pendapatan menengah.
Pesan tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, saat membuka Casual Talk bertema “Strategi dan Pemanfaatan Inovasi Digital sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi” dalam rangkaian FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, 25 September 2026.
Solikin mengatakan, posisi Indonesia di peringkat ke-55 dalam Global Innovation Index 2025 menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat kemampuan inovasi nasional.
Menurutnya, inovasi harus diarahkan pada produk dan solusi yang menghasilkan nilai tambah serta meningkatkan produktivitas ekonomi. Karena itu, kolaborasi regulator, industri, akademisi, asosiasi dan talenta digital menjadi semakin penting.
Salah satu contoh keberhasilan inovasi digital adalah QRIS. Hingga Agustus 2026, adopsi QRIS telah mencapai 69,32 juta pengguna dan 47,11 juta merchant.
Capaian tersebut menjadi pijakan bagi BI untuk mendorong inovasi digital ke tahap berikutnya melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI).
PIDI mengembangkan ekosistem inovasi melalui tiga pilar, yakni market intelligence, innovation experimentation, dan digital talent development. Pendekatan ini dirancang agar gagasan digital tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diuji, dikembangkan dan diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata.
Dari sisi regulasi, OJK menyiapkan mekanisme sandbox sebagai ruang pengujian inovasi sektor jasa keuangan. Skema tersebut memungkinkan aspek tata kelola, manajemen risiko, transparansi dan perlindungan konsumen diuji sebelum inovasi diterapkan secara lebih luas.
Sementara itu, perkembangan teknologi juga mendorong industri memperkuat sistem keamanan. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk mendeteksi anomali transaksi menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memperkuat pencegahan fraud.
Solikin menekankan, keamanan tidak boleh baru diperkuat setelah terjadi persoalan. Industri perlu membangun sistem pengamanan secara proaktif dan preventif dengan standar serta kepatuhan yang kuat.
Casual Talk tersebut menghadirkan Fitria Irmi Triswati, Gonthor Ryantori Aziz, Gretel Griselda dan Niki Luhur. Diskusi membahas arah kebijakan, pemanfaatan inovasi oleh industri, hingga penguatan ekosistem digital.
FEKDI x IFSE 2026 sendiri berlangsung 24-26 September 2026 di JICC Jakarta. Agenda tersebut mempertemukan regulator, industri, akademisi dan talenta digital melalui seminar, talkshow, showcase teknologi, pengalaman digital serta jejaring.
Melalui kolaborasi tersebut, transformasi digital diarahkan tidak sekadar meningkatkan volume transaksi, tetapi juga memperluas inklusi, memperkuat produktivitas dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.