“Penguatan ekosistem halal Jawa Timur sendiri terus berkembang. Untuk sekarang, kita sudah punya 22 Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat atau KHAS, 804 destinasi pariwisata ramah muslim, serta 56 sentra dan kawasan halal,” kata Khofifah.
Di sektor keuangan syariah, nilai aset perbankan syariah di Jawa Timur disebut mencapai Rp937,13 triliun, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp857,63 triliun.
Khofifah menilai kekuatan industri halal harus berjalan beriringan dengan ketersediaan pembiayaan. Dengan demikian, pelaku usaha tidak hanya mampu menghasilkan produk halal, tetapi juga memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi dan memperluas pasar.
Upaya menuju pasar internasional juga mulai diperkuat. Salah satunya melalui Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur-Arab Saudi di Jeddah yang mencatat transaksi lebih dari Rp6,7 triliun.
Menurut Khofifah, tindak lanjut kerja sama tersebut akan dilakukan melalui kunjungan investor ke Jawa Timur pada Oktober, November, hingga awal Januari.
Jawa Timur juga sebelumnya meraih Terbaik I Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) 2026 dari Kementerian Perindustrian.
Khofifah berharap FESyar tidak berhenti sebagai ruang promosi produk. Festival tersebut diharapkan mampu melahirkan transaksi, kemitraan, inovasi, dan akses pasar baru bagi pelaku usaha Jawa Timur.
“Ukuran keberhasilan ekonomi syariah bukan hanya seberapa besar asetnya, tetapi seberapa luas manfaat dan kemaslahatan yang dihasilkannya,” tegas Khofifah.
FESyar Regional Jawa 2026 berlangsung secara hibrida hingga Minggu (27/9/2026). Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang konsolidasi berbagai kekuatan ekonomi syariah sekaligus jembatan menuju penguatan industri halal Indonesia di pasar yang lebih luas.
Pembukaan turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, serta Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ibrahim. ***