Karawang, NAWACITAPOST.COM - Menteri Perikanan dan Kelautan Menteri Kelautan dan Perikanan melalui Direktur Jenderal Budi Daya Ikan dan Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budi daya (BLUPPB) Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Melakukan terobosan baru dimana bekas tambak udang yang dulu nama Tambak Inti Rakyat (TIR) sudah tidak berfungsi dengan baik.
Menteri Perikanan dan Kelautan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan bahwa tambak yang dulu tidak dimanfaatkan dengan baik serta dengan cara model lama, tambak inti rakyat dulu jaman orde baru.
" Dengan menggunakan teknologi jaman itu sehingga berjalannya waktu terkontaminasi ya jadi akhirnya produktifitas udangnya jadi tidak baik dan kemudian tidak terproduksi dengan baik."
Sehingga kita mencoba modifikasi tidak lagi dengan udang tapi dengan nila. Biasanya di air tawar, tapi kita modifikasi agar dia bisa tahan di air payau.
" Jelas saya kira ini sesuatu yang baik. Nila pasarnya cukup bagus perkiraannya hampir 13 miliar dollar." ungkap Mentri Kelautan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono,saat konferensi pers di lokasi Tambak Udang BLUPPB) Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Jumat (2/2/2023).
Menurut Sakti Wahyu Trenggono, saya kira di tahun 2030 prediksi market demand dunia berapa itu google bisa kita lihat.
" Kita membuat model kalau disini kita berhasil, nanti kita tantang lagi lebih luas " ujarnya.
Meskipun demikian , Sakti Wahyu Trenggono, apabila 10 ribu ton per siklus (8-9 bulan) dan berat 1 kilogram minimin per ekornya. Dengan luas tambak yang telah dimodifikasi sebesar 80 hektar ini, Trenggono memprediksikan modal yang telah dikucurkan pemerintah akan kembali setelah beroperasi selama tiga tahun. “Tiga tahun lah (balik modal),” ujarnya pula.
Adapun proyek percontohan (modeling) nila salin ini terbagi menjadi dua bagian yakni blok A yang merupakan tambak produksi (existing) dengan luas 16 hektar yang terdiri dari 22 petak tambak, serta blok B dengan luas 20 hektar dengan 36 petak tambak.
Disusul tambahan klaster pengembangan yakni blok C seluas 20,5 hektar yang terdiri dari 36 petak serta blok B dengan luas total 23,5 hektar yang terdiri dari 56 petak tambak.
Tambak seluas 80 hektar yang telah dimanfaatkan ini diproyeksikan dalam satu siklus mampu menghasilkan produksi sebanyak 7.020 ton selama 8-9 bulan dengan target berat ikan per ekor mencapai 1 kilogram.
Berdasarkan data KKP, total dana yang dikucurkan dalam memodifikasi tambak udang menjadi tambak nila salin mencapai Rp76,6 miliar.
Harga pokok produksi (HPP) nila salin diproyeksikan sebesar Rp24.500 per kilogram (kg), sementara harga jual Rp30.000 per kg sehingga margin profit yang didapat sebesar Rp5.500 per kg.
Dengan proyeksi panen nila salin per siklus, maka nilai total penjualan mencapai Rp210,6 miliar, nilai total HPP produksi sebesar Rp171,9 miliar serta margin profit diperkirakan mencapai Rp38,61 miliar. (Nurjaya Bachtiar)