NAWACITAPOST.COM - Armuji, Wakil Wali Kota Surabaya terpilih, dijadwalkan akan dilantik pada 20 Februari 2025. Ia akan kembali mendampingi Wali Kota Eri Cahyadi untuk periode kedua setelah memenangkan kontestasi Pilwali Surabaya melawan kotak kosong.
Pasangan yang dikenal dengan akronim Erji (Eri-Armuji) itu berhasil memperoleh 980.380 suara, jauh mengungguli kotak kosong yang hanya mendapatkan 224.340 suara. Saat ini, seluruh kepala daerah terpilih tengah menjalani tes kesehatan sebagai syarat pelantikan.
"Saya masih di Jakarta. Alhamdulillah hasil tes kesehatan saya baik semua. Sesuai doa warga Surabaya," ungkap Armuji.
Sebagai kader senior PDIP, Armuji dikenal luas di Surabaya. Pria kelahiran Ngagel, Surabaya, pada 8 Juni 1965 ini telah aktif di dunia politik sejak lama. Kariernya dimulai sebagai anggota DPRD Surabaya sejak 1999 dan dua kali menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya. Pada Pemilu 2019, ia terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Timur, bahkan menjadi salah satu peraih suara terbanyak di DPRD Jatim.
Pada tahun 2020, Armuji maju sebagai calon Wakil Wali Kota mendampingi Eri Cahyadi dan berhasil memenangkan Pilwali Surabaya. Kepemimpinannya pada periode pertama berjalan lancar hingga akhirnya mereka kembali mencalonkan diri dan menang tanpa lawan dalam Pilwali 2024.
Armuji merupakan loyalis PDIP yang telah lama terlibat dalam pergerakan partai. Ia mulai aktif sejak Kongres PDI di Surabaya yang dikenal sebagai PDI Promeg (Pro Megawati Soekarnoputri).
"Saya dulu hanya seorang simpatisan muda yang sering ngopi bareng kader dan membantu angkat-angkat bendera PDIP di kongres. Kebetulan saya punya mobil Hijet Colt, jadi saya pakai untuk mengangkut bendera. Padahal waktu itu saya belum jadi kader," kenangnya.
Dari pengalaman tersebut, Armuji semakin tertarik dengan jiwa militansi kader PDIP yang dikenal solid dan tidak kenal lelah. Akhirnya, ia pun memutuskan bergabung dan menjadi bagian dari partai.
Secara akademik, Armuji merupakan lulusan S1 Arsitektur ITATS Surabaya. Sebelumnya, ia menamatkan pendidikan di STM Siang Surabaya, sebuah sekolah yang pada eranya masih akrab dengan budaya tawuran pelajar.
"Saya biasa gelut dulu. Lanang. Dulu kalau sekolah saya juga bawa gir (gerigi sepeda) atau paling tidak sabuk. Tapi jangan ditiru," ujarnya sambil tertawa.
Meski pernah terlibat tawuran, ia tetap mengutamakan pendidikan. Saat kuliah, Armuji serius menekuni bidang arsitektur dan bahkan sudah mulai menghasilkan uang dari keterampilannya menggambar. Pada semester pertengahan, ia mulai mendapat proyek menggambar untuk berbagai pembangunan di Surabaya.
"Waktu itu saya dapat honor Rp 60.000 per gambar. Lumayan untuk biaya kuliah dan traktir teman-teman. Sampai lulus pun saya kerja di kontraktor," katanya.
Di sisi lain, kehidupan pribadinya pun menarik. Armuji yang tinggal di Ngagel ternyata jatuh hati pada seorang mahasiswi yang tinggal di rumah kos milik orang tuanya. Wanita tersebut adalah Iswahyurini, mahasiswi Unitomo Surabaya asal Gresik.
"Setiap kali lewat di rumah kos, saya selalu memperhatikannya. Akhirnya saya nikahi," kisahnya.