daerah

Zero New Stunting Jadi Fokus Pemkab Majalengka Tekan Prevalensi Stunting

Selasa, 15 Oktober 2024 | 15:47 WIB
Penjabat Bupati Majalengka, Dedi Supandi, bahwa pada tahun 2023 kasus stunting di Kabupaten Majalengka menurun menjadi 3,12 persen atau 2.465 balita dari jumlah total yang diukur sebanyak 79.101 balit

Majalengka, NAWACITAPOST.COM - Penanganan kasus stunting menjadi Pekerjaan Rumah (PR) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka dalam menekan angka stunting dan mencegah munculnya kasus baru.

Sejumlah langkah pemkab Majalengka disiapkan untuk menangani kasus stunting di Kabupaten Majalengka yang kini jumlahnya mencapai 3,12 persen.

Hal itu disampaikan oleh Penjabat Bupati Majalengka, Dedi Supandi, bahwa pada tahun 2023 kasus stunting di Kabupaten Majalengka menurun menjadi 3,12 persen atau 2.465 balita dari jumlah total yang diukur sebanyak 79.101 balita.

Terkait soal angka tersebut, Pj Bupati berharap alami penurunan setelah Survey Status Gizi Indonesia dilaksanakan di Majalengka.

"Kami sudah membentuk Tim Updater Data untuk mengupdate balita-balita di desa yang ditentukan untuk memastikan ada di situ. Nantinya, akan dijadikan sampel saat Survey Status Gizi Indonesia 2024 dilaksanakan di Majalengka. Kami berharap, angka stunting tahun ini menurun," ujar Dedi Supandi, Selasa (15/10/2024).

Upaya hal itu disampaikan Pemkab Majalengka dalam kegiatan Mabar volume ke-8 yang bertajuk Menuju Majalengka Zero Stunting di Gedung Yudha kompleks Pendopo Bupati Majalengka.

Kegiatan itu menghadirkan Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Majalengka, Asri Febriantini, dan Dokter Spesialis Anak RSUD Majalengka, dr Ratih Eka Pujasariq, sebagai narasumber.

Dalam paparannya, dr Ratih Eka Pujasari, mengatakan, deteksi dini adalah kunci mencegah stunting. Pasalnya, jika balita dinyatakan mengalami stunting maka termasuk kategori terlambat dalam pencegahannya. Namun, pihaknya memastikan, upaya untuk penanganannya tetap bisa dilaksanakan.

"Pencegahannya itu yang jelas nutrisi ibu hamil harus terpenuhi, karena stunting pada dasarnya dari anak normal tapi kekurangan nutrisi secara kronik akhirnya kenaikan berat badan maupun tinggi badannya tidak sesuai target dari anak-anak seusianya," jelas Ratih.

Menurutnya, biasanya orang tua belum mengetahui anaknya mengalami indikasi stunting akibat pertumbuhannya tidak sesuai target. Padahal, saat baru diketahui bahwa kenaikan berat badan anak tidak sesuai target harus segera diintervensi melalui pemberian makanan tambahan agar kebutuhan nutrisinya tercukupi.

"Kemungkinannya bisa juga anak ini sakit, sehingga yang dimakannya tidak cukup untuk pertumbuhannya. Kalau tidak diintervensi berat badannya akan berkurang terus, kemudian tubuhnya ini menurunkan kenaikan tinggi badan untuk menjaga keseimbangan status gizi baik, dan akhirnya menjadi gizi buruk lalu stunting," tuturnya.

Karenanya, pihaknya mengingatkan masyarakat segera ke dokter apabila kenaikan berat badan anaknya tidak sesuai target. Stunting juga berdampak buruk baik jangka pendek misalnya penurunan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit, dan jangka panjangnya penurunan fungsi kecerdasan yang mengakibatkan poin Intelligence Quotient (IQ).

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kabupaten Majalengka, Asri Febriantini, menyampaikan, terdapat 21 anggota Tim Updater Data yang mengupdate balita di desa-desa yang menjadi lokus untuk dilaporkan ke sistem yang telah disiapkan. Bahkan, hingga 11 Oktober 2024 progres pelaporan dari Tim Updater Data tersebut mencapai 96,29 persen.

"Pencapaian ini menduduki peringkat ketiga tertinggi di Jawa Barat, dan Tim Updater Data Kabupaten Majalengka juga sejauh ini tidak ada kendala dalam menggunggah data ke sistem. Padahal, daerah lain rata-rata kesulitan saat mengunggah data tersebut atau ketika turun ke lapangan," ungkapnya.

Halaman:

Terkini

Gaji Sekda Kota Surabaya Tertinggi se-Indonesia?

Senin, 22 Juni 2026 | 15:58 WIB