“Kami dari Surabaya ingin berbenah. Kami ingin menjaring bibit-bibit atlet, lalu dibina secara berkelanjutan. Surabaya ini iri dengan Jawa Timur yang sudah juara umum PON Beladiri dan punya atlet sampai SEA Games, sementara kontribusi Surabaya ke Puslatda masih minim,” ujarnya.
Tjahja menambahkan, dari sekitar 560 atlet yang bertanding, hari pertama difokuskan pada nomor fighting, sementara hari kedua mempertandingkan newaza dengan sekitar 86 atlet.
“Jumlah atletnya besar, secara kuantitas luar biasa. Tinggal bagaimana ke depan penanganannya kita sempurnakan agar kualitasnya juga meningkat,” tegasnya.
Dukungan politik dan moral juga datang dari Dewan Penasihat PBJI Kota Surabaya yang juga Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko. Ia menilai kejuaraan ini sebagai momentum persatuan lintas perguruan menjelang Porprov 2027.
“Ini bukan event satu perguruan, tapi multi perguruan. Momentum yang sangat bagus agar semua perguruan ju-jitsu di Surabaya bersatu. Karena ke depan kita punya gawe besar, Porprov Jawa Timur 2027,” kata Yona yang akrab disapa Cak Yebe.
Ia menegaskan komitmen DPRD dan Pemerintah Kota Surabaya untuk terus mendorong pembinaan ju-jitsu sebagai salah satu cabang olahraga andalan.
“Kami mendorong sepenuhnya event-event seperti ini, termasuk Dispora Cup Januari nanti. Ini pemanasan menuju 2027. Goal-nya Surabaya harus bisa,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Yebe juga memberikan dukungan dana Rp10 juta untuk para pelatih dan Rp10 juta untuk atlet juara sebagai bentuk motivasi.
“Semoga ini menjadi motivasi, bukan karena nilainya. Menang kalah itu biasa. Musuh paling berat adalah diri sendiri. Kalau bisa mengalahkan diri sendiri, insya Allah kalian juara sejati,” pungkasnya. ***