NAWACITAPOST.COM – RSUD Eka Chandrarini Surabaya menghadapi persoalan serius tak lama setelah peresmian pada 18 Desember 2024. Serangan serangga Tomcat di berbagai area rumah sakit memicu keprihatinan Komisi D DPRD Surabaya, yang meminta tindakan cepat untuk mengatasi masalah tersebut.
Menurut dugaan, lokasi rumah sakit yang sebelumnya merupakan kawasan rawa-rawa dan masih dikelilingi area serupa menjadi penyebab utama keberadaan Tomcat di fasilitas tersebut.
Imam Syafi’i, anggota Komisi D DPRD Surabaya, meminta penanganan intensif sebelum rumah sakit mulai beroperasi penuh. Dalam inspeksi mendadak yang dilakukan pada Selasa (31/12/2024), Imam menemukan serangga ini di beberapa lantai rumah sakit, termasuk lantai 3, 4, 7, serta kamar mandi di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Saya lihat sendiri tadi di tembok di depan UGD itu banyak sekali. Ini kan bahaya,” kata Imam saat sidak berlangsung.
Meskipun RSUD Eka Chandrarini telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, dan Dinas Kesehatan untuk melakukan penyemprotan, Imam menilai hasilnya belum memadai. “Tadi kami konfirmasi juga ke Direktur RSUD, Bu Betty (drg. Bisukma Kurniawati). Ternyata memang persoalan Tomcat ini sedang diatasi, tapi kelihatannya agak sulit menghilangkannya,” ujarnya.
Imam mengingatkan bahwa pembukaan enam hingga sepuluh poli yang direncanakan pada Januari 2025 dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi pasien jika masalah ini tidak segera diselesaikan. “Saya mohon poli rawat jangan dibuka dulu kalau persoalan Tomcat tidak selesai. Karena ini bisa membahayakan pasien,” tegas Imam.
Imam juga menyoroti anggaran pembangunan rumah sakit yang mencapai setengah triliun rupiah. Ia menyayangkan masalah seperti ini muncul meskipun investasi yang besar telah dikeluarkan. “Setengah triliun itu banyak sekali, lalu kemudian persoalan Tomcat ternyata tidak bisa diselesaikan. Wah ini menurut saya sangat disesalkan,” tambahnya.
Kendati demikian, Imam tetap memberikan apresiasi terhadap kesiapan rumah sakit dari sisi bangunan dan tenaga medis, serta proses akreditasi yang baru selesai pada 28 Desember 2024. Ia juga optimistis hasil akreditasi akan mendukung peningkatan pelayanan RSUD Eka Chandrarini.
“Ketika kami mengunjungi IGD, saya lihat petugasnya juga siap dan sudah mengantisipasi kalau ada pasien yang datang. Menurut penjelasan tadi, dokternya ada dua dokter ya,” tambah Imam.
Ia memastikan bahwa pada hari sidak berlangsung, tidak ada antrean pasien dengan kondisi darurat yang serius. Imam menyebut konsep operasional rumah sakit ini adalah berjalan sambil melengkapi kebutuhan yang masih kurang.
"Memang ini prinsipnya adalah jalan dulu sambil akreditasi dan sambil melengkapi,” tutup Imam. ***