Senin, 19 Oktober 2026

Bocah Disabilitas Tewas, Pemkot Surabaya Jangan Diam! Evaluasi Budi Pekerti dan Krisis Empati Anak

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Senin, 19 Oktober 2026 | 11:31 WIB
Gmbar ilustrasi AI
Gmbar ilustrasi AI

Kematian Zulkarnain seharusnya menyadarkan kita bahwa pendidikan karakter bukan urusan tambahan setelah pelajaran akademis selesai. Pendidikan karakter merupakan fondasi agar ilmu pengetahuan tidak tumbuh tanpa kemanusiaan.

Pemkot Surabaya tidak boleh diam. Evaluasi pendidikan budi pekerti siswa SD harus menjadi agenda serius. Jangan menunggu korban berikutnya untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi.


ULASAN REDAKSI

Tragedi Anak Disabilitas, Cermin Retak Pendidikan dan Kepedulian Sosial

Redaksi memandang peristiwa yang menimpa Zulkarnain bukan semata persoalan hubungan antaranak. Tragedi ini membuka ruang evaluasi yang lebih luas terhadap keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dan pemerintah dalam menjalankan tanggung jawab perlindungan anak.

Tentu, kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa tragedi ini merupakan akibat langsung kegagalan pendidikan, pola asuh tertentu, atau paparan permainan digital. Semua dugaan tentang penyebab dan rangkaian kejadian harus diuji melalui penyelidikan yang objektif. Namun, peristiwa ini cukup menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk menilai kembali kesiapan sistem pencegahan kekerasan terhadap anak.

Ada tiga pertanyaan yang patut diajukan.

Pertama, sudahkah pendidikan budi pekerti benar-benar membentuk empati?

Jika pendidikan karakter hanya diukur dari nilai rapor dan kepatuhan terhadap tata tertib, kita berisiko mengabaikan persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana anak memperlakukan orang lain ketika tidak ada guru atau orang tua yang mengawasi.

Anak perlu belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek, kelemahan bukan kesempatan untuk menyakiti, dan candaan bukan pembenaran bagi tindakan yang membahayakan orang lain.

Kedua, apakah lingkungan sosial masih memiliki keberanian untuk peduli?

Kekerasan terhadap anak bisa terjadi di luar ruang kelas. Karena itu, perlindungan anak tidak mungkin hanya diserahkan kepada sekolah atau aparat. Orang tua, tetangga, pengurus lingkungan, dan masyarakat harus menjadi bagian dari sistem pencegahan yang aktif.

Kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui ucapan belasungkawa setelah tragedi. Kepedulian harus hadir ketika tanda-tanda masalah mulai terlihat.

Ketiga, apakah pemerintah sudah memberikan perhatian seimbang terhadap pendidikan akademis dan pembentukan karakter?

Pemkot Surabaya perlu membuka evaluasi yang terukur: bagaimana sekolah menangani laporan perundungan, berapa banyak guru mendapat pelatihan pencegahan kekerasan, bagaimana pendidikan inklusi dilaksanakan, dan sejauh mana orang tua dilibatkan dalam pembinaan perilaku anak.

Evaluasi tersebut harus menghasilkan perbaikan yang dapat dipantau publik, bukan berhenti pada rapat koordinasi atau imbauan sesaat.

Redaksi juga menilai bahwa persoalan penggunaan gawai dan game digital harus ditangani melalui literasi digital dan pendampingan orang tua. Menyalahkan teknologi secara membabi buta tidak menyelesaikan masalah. Yang dibutuhkan ialah kemampuan anak memahami konten, pengawasan yang proporsional, serta keteladanan orang dewasa dalam mengelola emosi dan menyelesaikan konflik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Elya Yuddy Irawan

Tags

Terkini