“Kalau memang ternyata menyenangkan, semarak, dan membuat anak-anak semakin semangat mengaji di TPQ, tidak ada salahnya kita buat tahunan,” katanya.
Reni kembali menegaskan bahwa pembinaan santri membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah, khususnya dalam sektor pendidikan dan kesehatan.
Menurutnya, banyak lulusan pendidikan pesantren maupun TPQ yang berhasil menjadi tenaga profesional dan berkontribusi di berbagai bidang. Ia bahkan menyoroti keberadaan tenaga medis dalam kegiatan tersebut yang memiliki latar belakang sebagai santri TPQ.
Reni Cup 2026 pun menjadi pengingat bahwa pembinaan generasi muda tidak harus memisahkan pendidikan agama, kesehatan, dan prestasi. Ketiganya dapat berjalan beriringan melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak.
Dengan semangat ngaji, olahraga, dan persaudaraan, turnamen ini diharapkan melahirkan generasi santri Surabaya yang bukan hanya mampu mencetak gol di lapangan, tetapi juga memiliki karakter kuat, menghormati sesama, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Ketua panitia penyelenggara, Widya Adi Sasongko, menjelaskan Reni Cup 2026 merupakan pengalaman pertama penyelenggaraan turnamen futsal santri di Surabaya. Panitia mencatat sebanyak 27 tim akhirnya mengikuti kompetisi tersebut.
Setiap tim terdiri atas 10 pemain, yakni lima pemain inti dan lima pemain cadangan, serta didampingi tiga ofisial. Peserta dibatasi pada anak berusia 7–12 tahun yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan tercatat sebagai santri TPQ di wilayah kecamatan masing-masing.
Untuk memastikan persyaratan tersebut terpenuhi, panitia melakukan verifikasi data peserta, termasuk usia, jenjang sekolah, dan status keaktifan mengaji melalui sistem pendataan yang digunakan.
Pembatasan usia dan jenjang pendidikan dilakukan agar pertandingan berlangsung lebih seimbang, baik dari sisi kemampuan fisik maupun perkembangan emosional anak.
Adi menyebut antusiasme peserta dan orang tua menjadi salah satu hal yang menonjol dalam penyelenggaraan perdana ini. Ia berharap Reni Cup dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang sebagai wadah positif bagi santri untuk mengembangkan bakat dan kemampuan mereka.
Ketua DPD FKPG Kota Surabaya, H. Alfan Nabhan, menyambut positif penyelenggaraan turnamen tersebut. Ia menjelaskan, FKPG merupakan wadah bagi lembaga pendidikan Al-Qur’an dan para guru TPQ di Surabaya.
Menurut Alfan, jaringan pendidikan Al-Qur’an di Surabaya mencakup sekitar 3.600 lembaga dengan total kurang lebih 12.700 guru TPQ. Besarnya jaringan tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya pembinaan santri yang tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga pengembangan karakter, kesehatan, dan potensi anak.
“FKPG menginginkan santri itu bukan hanya mengaji saja. Ya ngaji, ya bal-balan. Tapi kalau bal-balan, ojok misuhan, ojok nakalan. Kalah menang, ayo seduluran,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam olahraga. Sikap menghormati lawan, mengendalikan emosi, dan menjaga persaudaraan justru menjadi pelajaran penting yang harus dibawa pulang setiap peserta.
Alfan juga menilai antusiasme anak-anak dan orang tua menjadi modal penting untuk melanjutkan program ini. Ia berharap Reni Cup tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial Hari Santri, tetapi berkembang menjadi agenda pembinaan yang berkelanjutan.