Imam mengaku bersyukur ada kepedulian dari kakak kelas Putri. Sejumlah seragam bekas yang masih layak pakai diberikan kepada Putri dan diserahkan melalui dirinya.
“Saya sangat berterima kasih kepada kakak kelasnya yang menyumbang seragam sekolah bekas layak pakai untuk diserahkan langsung kepada Putri. Alhamdulillah,” kata Imam.
Namun, tidak seluruh seragam lungsuran tersebut dapat digunakan. Perubahan desain seragam sekolah membuat sebagian pakaian yang diberikan sudah tidak sesuai dengan ketentuan seragam Putri saat ini.
Kondisi itu membuat Imam kemudian membantu memenuhi kekurangan seragam Putri. Senin siang, ia membelikan sejumlah perlengkapan di koperasi sekolah, yakni baju olahraga, baju batik beserta bawahannya, serta baju kotak-kotak lengkap dengan bawahannya.
Kisah Putri memperlihatkan paradoks yang masih ditemukan di tengah berbagai program bantuan pendidikan. Seorang anak yang mampu mengukir prestasi sebagai juara Paskibraka ternyata masih harus berjualan kue agar kebutuhan sekolahnya terpenuhi.
Bagi Imam, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama agar keterbatasan ekonomi tidak menghambat anak-anak Surabaya untuk berkembang dan berprestasi.
“Jangan sampai anak yang punya prestasi dan semangat sekolah justru terhambat karena persoalan kebutuhan dasar pendidikan,” pesan Imam. ***