Bagi Rudy, persoalan itu tidak semestinya dijadikan alasan untuk membangun kecurigaan bahwa PSI sengaja merancang perpindahan kader partai lain. Ia menegaskan, dirinya tidak sedang berbicara sebagai juru bicara resmi PSI, melainkan menyampaikan penjelasan berdasarkan keterlibatannya dalam pertemuan tersebut.
PSI Diharapkan Menjadi Rumah Politik Baru
Rudy menyampaikan bahwa dirinya menyambut baik apabila ada masyarakat maupun kader dari partai lain yang ingin bergabung dengan PSI. Ia berharap PSI Surabaya dapat menjadi tempat bagi warga yang ingin memperjuangkan aspirasi masyarakat dan menaruh harapan terhadap masa depan kota.
“Kami ingin PSI Kota Surabaya pada khususnya ini bisa menjadi rumah baru yang nyaman bagi siapa pun yang ingin berlabuh dan menaruh harapan tentang masa depan Kota Surabaya khususnya, tentang masa depan Indonesia pada umumnya,” tuturnya.
Ia juga mengajak masyarakat yang memiliki keyakinan terhadap PSI sebagai kendaraan politik untuk tidak ragu membangun komunikasi dan menyampaikan aspirasi. Menurutnya, semakin banyak orang yang tertarik bergabung seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat partai, bukan alasan untuk membangun pembatasan yang tidak diperlukan.
Rudy turut menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki jabatan struktural yang memberinya kewenangan berbicara mewakili PSI. Ia menyebut latar belakangnya sebagai mantan calon legislatif tingkat provinsi dan aktivis 1998 yang mendukung Joko Widodo sebagai bagian dari perjalanan politiknya.
Pengakuan tersebut penting agar kritiknya terhadap Mama Evi ditempatkan secara proporsional: sebagai pandangan seorang kader, bukan keputusan atau sikap resmi DPD PSI Surabaya. ***