NAWACITAPOST.COM — Persediaan menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar yang menyerap modal dalam bisnis. Sayangnya, sering kali pengukuran terhadap persediaan ini terabaikan.
Margin yang bocor dalam bisnis dagang jarang sekali muncul dalam satu peristiwa besar. Biasanya, penyebabnya adalah kebiasaan kecil yang berulang tanpa disadari. Akibatnya, masalah ini sulit terdeteksi karena laporan penjualan terlihat normal dan baik-baik saja.
Di sinilah peran software manajemen inventory menjadi sangat penting bukan hanya untuk mencatat, tetapi juga untuk menunjukkan di mana modal sebenarnya tertahan. Oleh karena itu, pebisnis sering membandingkan berbagai sistem, termasuk Pilihan lain untuk solusi omnichannel ecommerce yang terjangkau, Mekari Desty. Berikut ini tujuh kesalahan manajemen stok beserta dampaknya terhadap margin bisnis.
1. Memesan Berdasarkan Diskon Supplier
Potongan harga saat membeli dalam jumlah besar memang terlihat menguntungkan pada nota pembelian. Namun, hal ini berisiko mengunci modal lebih lama di rak penyimpanan. Biaya yang dihemat per unit harus dibandingkan dengan biaya simpan yang muncul selama barang menunggu untuk terjual.
Risiko ini semakin besar untuk barang dengan masa simpan terbatas atau produk yang cepat berganti model. Akhirnya, potongan harga awal bisa terhapus karena harus memberikan diskon lebih besar saat melepas stok yang sudah lama.
2. Menyamakan Perlakuan Terhadap Seluruh SKU
Setiap SKU (Stock Keeping Unit) memberikan kontribusi berbeda pada total penjualan. Memberikan perlakuan yang sama pada semua SKU bisa memboroskan perhatian tim yang seharusnya difokuskan pada produk utama. Solusinya adalah dengan melakukan analisis ABC, yaitu pengelompokan barang berdasarkan nilai kontribusinya.
Frekuensi pemeriksaan stok juga disesuaikan dengan kategori tersebut. Misalnya, untuk kelompok A yang bernilai paling tinggi, pemeriksaan dilakukan secara lebih sering, sedangkan kelompok C mengikuti siklus yang lebih longgar.
3. Mengabaikan Biaya Simpan
Sering kali biaya menyimpan barang tidak dimasukkan dalam perhitungan margin per produk. Padahal, biaya tersebut terdiri atas banyak komponen, seperti sewa ruang gudang, tenaga kerja, asuransi, risiko kerusakan dan penyusutan, serta bunga atas modal yang tertahan di persediaan.
Jika biaya simpan ini tidak diperhitungkan, produk dengan margin tipis dan perputaran lambat masih tampak menguntungkan. Oleh sebab itu, margin per unit harus dilihat berdampingan dengan seberapa cepat produk tersebut berputar.
4. Tidak Memisahkan Stok Tersedia dan Stok Teralokasi
Barang yang sudah dipesan oleh pembeli seringkali masih secara fisik terlihat di rak, namun sebenarnya stok tersebut sudah tidak lagi bisa dijual kepada pelanggan baru. Jika tidak dipisahkan, angka stok yang terbaca menjadi lebih besar dari yang sebenarnya dan memungkinkan bisnis menerima pesanan melebihi kemampuan yang tersedia.
Pemisahan stok menjadi semakin penting saat jumlah kanal penjualan bertambah. Tanpa pemisahan ini, pembatalan pesanan akan lebih sering terjadi di kanal yang menerima pesanan terakhir.
5. Stock Opname Hanya Setahun Sekali
Melakukan stock opname hanya sekali dalam setahun membuat selisih stok menumpuk tanpa diketahui sejak awal. Seiring waktu, jumlah transaksi yang sudah terjadi membuat penelusuran sumber selisih menjadi hampir mustahil.
Melakukan cycle count atau penghitungan stok berkala dapat menyebarkan beban kerja selama tahun berjalan. Melalui cara ini, selisih bisa dideteksi lebih awal saat jejak transaksi masih tersedia dan dapat ditelusuri.
6. Menyimpan Barang Lambat Laku Terlalu Lama
Kadangkala, barang lambat laku tetap disimpan dengan harapan bisa terjual pada harga normal suatu saat nanti. Risiko ini justru menurunkan peluang barang terjual dengan harga penuh seiring berjalannya waktu.