ekonomi

Tiga Pilar BI Dorong UMKM Naik Kelas, Teh Gambyong Bukukan Omzet hingga Rp300 Juta per Bulan

Rabu, 7 Oktober 2026 | 17:40 WIB
Salah satu pemetik Teh UMKM Teh Gambyong di Desa Kemuning, Karanganyar yang dikelola Eko Wuryanto.

Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan meluasnya jaringan distribusi. Jumlah reseller yang sebelumnya sekitar 235 mitra pada 2023, kini mencapai sekitar 620 mitra.

“Produk teh olahan kami kini telah merambah pusat oleh-oleh di wilayah Solo Raya, Jawa Barat, Jawa Timur, Bekasi, hingga pengiriman berkala ke Pulau Kalimantan dan Sulawesi,” kata Eko.

Teh Gambyong juga mengembangkan model bisnis berbasis pemberdayaan masyarakat lokal dengan menggandeng 26 petani teh setempat.

Daun teh petani dibeli dengan harga minimal Rp5.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga yang disebut Eko diterima petani ketika menjual ke pabrik di daerah lain yang berkisar Rp2.300 per kilogram.

Model tersebut bahkan menarik 15 petani tambahan dengan total luas lahan sekitar 15 hektare untuk bergabung.

Tak berhenti pada produksi, Teh Gambyong juga dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Pengunjung maupun mahasiswa dapat melihat langsung proses produksi, mulai pemetikan daun teh, pelayuan menggunakan mesin rotary, penggulungan, hingga pengeringan.

Lokasi tersebut juga menjadi rujukan penelitian mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Sebelas Maret.

Di tengah ekspansi pasar, tantangan pasokan bahan baku tetap menjadi perhatian. Musim kemarau dapat memperlambat pertumbuhan pucuk daun teh.

Untuk mengantisipasinya, manajemen menerapkan strategi stock management dengan memaksimalkan persediaan selama musim penghujan.

Bagi BI, perkembangan Teh Gambyong menunjukkan bahwa penguatan kelembagaan, pembiayaan, dan pasar perlu berjalan beriringan. Pendampingan juga harus berujung pada kemampuan UMKM untuk tumbuh secara mandiri dan memperluas dampak ekonominya kepada masyarakat sekitar. ***

Halaman:

Tags

Terkini